Marketing Syariah Sebagai Perangkat Dalam Menjalankan Bisnis Reretika Dan Trend Bisnis Dunia Global

MARKETING SYARI’AH SEBAGAI PERANGKAT DALAM MENJALANKAN

BISNIS BERETIKA DAN TREND BISNIS DUNIA GLOBAL

Oleh : Nur Chamid[1]

Abstrak :

Rahasia keberhasilan dalam perdagangan adalah sikap jujur dan adil dalam mengadakan hubungan dagang dengan para pelanggan. Dengan berpegang teguh pada prinsip ini, Nabi telah memberi teladan cara terbaik untuk menjadi pedagang yang berhasil. Sebelum menikah dengan Khadijah, Nabi telah berdagang-sebagai marketing director Khadijah & Co, ke Syiria, Jerusalem, Yaman, dan tempat-tempat lainnya.

Trend bisnis dunia global menghadirkan sebuah etika dunia sedang muncul di dunia bisnis. Sebuah perpektif yang didasarkan pada counciusness, spirit, dan tanggung jawa pada dunia dan semua mahluk di atasnya. Jika kita ma uterus hidup dan berkembang, maka pendekatan ini bukan sebuah opsi melainkan keharusan. Salah satu ciri marketing syariah adalah sifatnya yang relegius (diniyyah), dimana kondisi ini seharusnya buka tercipta karena keterpaksanaan namun dari suatu kesadaran akan nilai-nilai religious yang dipandang penting dan mewarnai aktifitas marketing agar tidak terperosok ke dalam perbuatan-perbuatan yang merugikan orang lain.

Muhammad, hadir sebagai sosok Syari’ah Marketer handal yang meletakkan prinsip-prinsip dasar dalam melakukan transaksi dagang secara adil. Kejujuran dan keterbukaan Muhammad dalam melakukan transaksi perdagangan merupakan sifat dan teladan abadi bagi pengusaha generasi selanjutnya utamanya bagi pemikir dan pelaku marketing bisnis dalam dunia modern seperti saat ini.

Kata Kunci : Marketing Syari’ah, Bisnis Beretika, Trend Bisnis, Dunia Global

Abstract

 

The secret of success in the marketing is honest and fair in marketing relation with customers. Hold on this principle, the prophet was given examples in best way for being a success trader. Before married with Khadijah, the prophet was trade as marketing director of Khadijah & Co, to Syria, Jerusalem, Yemen, and other places.

Trend business of global world presenting a world ethic in business world. A perspective that the base of consciousness, spirit, and relationship to the world and all creatures. If we want to continue to life and develop, so this approaches not an option but necessity. One of characteristic in marketing syari’ah is religious character (diniyyah), where this condition not create by compulsion but from a consciousness in religious value

Muhammad came as the best syari’ah marketer who hold the basic principles in justice trading

 

 

  1. Pendahuluan

Bisnis secara bahasa (etimologi) memiliki beberapa arti, yakni usaha, perdagangan, toko, perusahaan, tugas, urusan, hak-hak usaha dagang, usaha komersial dalam perdagangan serta usaha-usaha lain,[2] dari pengertian tersebut bisnis dapat berarti aktifitas riil ekonomi berupa jual beli atau pertukaran barang dan jasa. Adapun secara terminologis, kata bisnis memiliki beberapa pengertian. Menurut Hughes dan Kapoor, bisinis merupakan suatu usaha individu yang terorganisir untuk menghasilkan (laba) atau menjual barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat[3] Menurut pandangan lain dikatakan bahwa bisnis adalah usaha-usaha yag meliputi pertanian, produksi, konsumsi, distribusi, transportasi, komunikasi, usaha jasa, dan pemerintahan yang bergerak dalam bidang membuat dan memasarkan barang dan jasa pada konsumen. Dalam pengertian ini bisnis meliputi tiga bagia yakni, yakni usaha perseorangan, kecil-kecilan dalam bidang barang dan jasa, kedua usaha perusahaan besar seperti pabrik, transportasi, perusahaan media, hotel, ketiga usaha dalam bidang struktur ekonomi suatu bangsa.

Dalam dunia modern sekarang ini, bisnis merupakan aktivitas yang saangat kompleks. Hal tersebut kegiatan bisnis banyak terkait dan sekaligus dipengaruhi dan ditentukan oleh banyak faktor, seperti organisasi-manajerial, ilmiah-teknologis dan politik social cultural. Oleh karena itu, pelaku bisnis (pebisnis) sekarang dituntut untuk memiliki profesionalisme yang tinggi. Sebab tanpa itu, kegiatan bisnis bukan saja statis dan tidak maju, namun kadang justru akan hancur dan gulung tikar. Ini berarti bisnis harus dilaankan secara professional.[4] Hanya saja sikap professional dan profesionallisme yang dimaksudkan dalam dunia bisnis terbatas pada kemampuan teknis menyangkut keahlian dan ketrampilan yang terkait dengan bisnis manajemen, produksi, pemasaran, keuangan, personalia, dan seterusnya. Hal tesebut selalu dikaitkan dengan prinsip efisien demi mendatangkan keuntungan yang besar.

Oleh sebab itu, wajar bila kegiatan bisnis tidak dianggap sebagai kegiatan yang luhur. Sebaliknya, ia justru dianggap sebagai profesi kotor yang penuh tipu daya dan kecurangan. Namun anehnya para pebisnis itu sendiri juga tidak keberatan jika tuduhan seperti itu dialamatkan kepadanya. Sebab bagi mereka, satu-satunya tujuan dari bisnis yang mereka jalnkan adalah mencari keuntungan. Akibatnya, cara apapun kemudianggap sah asalkan tujuan bisnis awal dapat dicapai.konsekwensinya aspek moralitas dalam persaingan bisnis dianggap sebagai penghalang tujuan tersebut. persaingan dalam bisnis seringkali lebih mempresentasikan persaingan kekuatan modal; pelaku bisnis dengan modal besar akan terus berusaha memperbesar jangkauan bisnisnya sehingga mengakitakan semakin tergeser dan tergusurnya para pengusaha yang kekurangan modal (pengusaha kecil). Ini merupakan wujud nyata dari adanya persaingan bisnis yang tidak fair dan jelas-jelas tidak dilandasi tidak dilandasi dengan nilai-nilai moral moral. Dengan sikap seperti itu maka pada gilirannya muncul sebuah pemahaman bahwa bisnis merupakan sebuah aktifitas ekonomi manusia yang bertujuan mencari keuntungan ansich.[5]Sementera trends bisnis dunia global sedang beranjak dari ekonomi kapilisme yang mengusung slogan keserakan menuju pada dunia dunia bisnis yang memeprhatikan nilai, regiusitas dan tanggung jawab sosial serta lingkungan.

 

  1. Marketing Syariah

Pemasaran (marketing), manajemen, produksi, keuangan, personalia, adalah persoalan penting dalam kelangsungan sebuah usaha (bisnis). Hampir tidak ada satu bisnispun di dunia ini bisa berhasil dan sukses tanpa melakukan kegiatan pemasaran ini, walau dengan sangat sederhana sekalipun !. Perkembangan dunia pemasaran saat ini sangat maju dan bekembangan pesat. Marketing sendiri adalah sebuah disiplin ilmu bisnis yang mengarahkan proses pencitraan, penawaran, dan perubahhan value dari suatu inisiator kepada stakeholdernya[6].

Menurut Zen Abdurrahman; pemasaran adalah sebagaai suatu analisis, perencanaan, implementasi dan pengendalian dari program-program yang dirancang untuk menciptakan, membangun dan memelihara pertukaran yang menguntungkan. Dalam hal ini pembeli merupakan bidikan utama perusahaan guna mencapai tujuannya.[7] Adapun program –program yang dimaksud adalah meliputi pendistribusian barang, penetapan harga dan pengawasan terhadap berbagai kebijakan yang dibuat sesuai dengan tujuan untuk mendapatkan tempat di pasaran.

Sedang marketing syari’ah menurut pandangan Hermawan Kertajaya dan Syakir Sula[8] antara lain adalah sebagai berikut : “Marketing Syari’ah is a strategic business discipline that directs the process of creating offering, and changing value from one initiator to its stake holders, and the whole process should be ini accordance with muamalah principles in Islam”. ( Marketing Syari’ah adalah sebuah disiplin bisnis strategis yang mengerahkan peruses penciptaan, penawaran dan perubahan value dari satu insiator kepada stakeholdernya, dimana keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad dan prinsip-prinsip mu’amalah (bisnis) dalam Islam”.

 

  1. Sejarah Marketing Syari’ah

Pada periode awal perkembangan Islam, aktifitas perdagangan kaum muslimin telah berkembang cukup maju dan pesat. Hal tersebut terjadi juga Karen pengembangan dakwah Islampun melalui usa-usaha tersebut. dapat dikatakan ketika itu dunia Islam telah terintegrasi dengan dunia perdaggangaan ekonomi internasional. Dengan sendirinya maka praktik-praktik perdagangan yang berkembang di dunia Islam pada masa Muhammad SAW dan setelahnya merupakan referensi yang baik dan sangat mungkin dipakai sebagai landasan untuk merumuskan pola-pola perdagangan Islami.[9]

Prinsip-prinsip etika bisnis yang diterapkan oleh Muhammad SAW. Mendapatkan pembenaran dari kalangan akademisi pada kisaran awal abad 20. Dinama zaman modern saat ini lebih dikenal sebagai cara yang bertujuan untuk memberikan kepuasan pelanggan (costumer satisfaction), pelayanan yang unggul (service excellence), kompetensi, traansparansi, serta persaingan sehat dan kompetitif. Jauh sebelum strategi marketing diperbincangkan secara teoritik, nabi memrikan gambaran bahwa ia tidak hanya berisi dimensi produk atau layanan, namun lebih dari itu lebih spisifik nuansi emosi berupa kejujuran (shidik) atas sebuah produk ditawarkan dengan baik. Dan kenyataannya di zaman sekarang ini apapun nilai produk yang ditawarkan kepada konsumen, ketika pemasar tidak mampu bersikap jujur pada diri sendiri, maka dipastikan hal tersebut menjadi usaha yang sia-sia.[10]

Dalam catatan sejarah lebih dari dua puluh tahun nabi ketika berkiprah dalam dunia pemasaran dan bisnis perdagangan titik tolaknya adalah prinsip-prinsip kejujuran dan keadilan dalam berhubungan. Ininlah pentinganya memadukan strategi marketing bisnis dengan etika bisnis. Dalam kontek ini bisnis tidak hanya semata-mata memperkaya diri sendiri srta mendapatkan keuntungan pribadi, tetapi juga membangun kesejahteraan bagi diri dan masyarakat serta menghadirkan ketenangan batin.[11]

 

  1. Karakteristik Marketing Syariah.

Ada empat karateristik syariah marketing yang yang dapat menjadi panduan bagi para pemasar (marketer), yang masing-masing sebagai berikut :

 

 

 

  1. Teistik, islamic spiritualisme (Robbaniya)

Dunia global telah berubah, Patrecia Aburdande dalam bukunya mega trends 2010 [12] menyebutkan bahwa bahwa, sebuah etika dunia sedang muncul di dunia bisnis. Sebuah perpektif yang didasarkan pada counciusness, spirit, dan tanggung jawa pada dunia dan semua mahluk di atasnya. Jika kita ma uterus hidup dan berkembang, maka pendekatan ini bukan sebuah opsi melainkan keharusan. Salah satu ciri marketing syariah adalah sifatnya yang relegius (diniyyah), dimana kondisi ini seharusnya buka tercipta karena keterpaksanaan namun dari suatu kesadaran akan nilai-nilai religious yang dipandang penting dan mewarnai aktifitas marketing agar tidak perperosok ke dalam perbuatan-perbuatan yang merugikan orang lain.[13]

Marketing robbaniyah, dimaksudkan bahwa setipa aktifitas bisnis yang sementara orang kapitalis hanya semata-mata bertujuan untuk keuntungan materi, sifatnya kepentingan individu, besifat duniawi dan kekinian tersebut tentu berbeda dengan pandangan Islam. Dalam Islamic spiriritual bisnis ini disamping nilai-nilai tambah tersebut tidak kalah pentinya adalah stiap usaha (bisnis) ini harus beriplikasi pada ketenagan batin setelah mendapat keuntungan sekaligus mendapat kebahagiaan di kehidupan kedua (akherat)[14]. Jadi seorang yang mau melakukukan aktifitas bercocoktanam, bekerja di sector-sektor lain termasuk berdagang adaalah diniatkan untuk menjadi hamba yang dicintai Allah (ibadah karena Allah). Nah, dengan demikian ketika dalam praktenya lalu mendapatkan keuntungan dari usaha – usaha tersebut, dia meyakini bahwa yang didapat adalah semata-mata rizki pemberian Allah yang berapun jumlahnya harus disyukuri.

  1. Etis-tata nilai, moral (Akhlaqiyyah)

Karakter marketing yang berdasarkan etis, tata nila dan mora yang disebut karakter akhlaqiyah adalah ciri kedua dalam marketing syari’ah. Kecenderungan masyarakat dunia maju dari konsumerisme yang membabi buta bahkan cenderung serakah kini lebih egaliter dan memperlihatkan komitmen lingkungan adalah bagian dari trends global saat ini. Ketika seseorang membeli produk-produk peratnian yang diproduksi tanpa pupuk kimia (makanan non organic) , pembelian mobil hibrida, dan material bangunan yang ramah lingkungan adalah bentuk pemilihan yang berdasarkan tata nilai , moral-etik (Ahklaqiyyaah). Jadi pilihan terhadap mererk-merek yang positif sangat menarik minat mereka-mereka.

Ciri khusus karakter ahlaqiyyah ini terkait dengan komitmen Islam bahwa apapun aktifitas yang dilakukan oleh seseorang sudah barang tentu harus memperhatikah kaidah – kaidah kebaikan dan kelaziman yang seharusnya. Karena dalam islam tidak ada pemisahan antara kegiatan ekonomi dengan komitmen moral yang harus di implementasikan kapanpun dan dimanapun ia berada, hal tersebut sebagai tanggung jawab moral atas sebagaimana firman Allah : “Barang siapa melakukan suatu kebaikan sebesar biji atom sekali[u, maka ia akan melihatnya. Dan barang siapa yang melakukan satu kejahatan sebesar atom sekalipun, maka ia akan melihatnya pula”.[15] Dalam kaitan ini mestinya ketika aktifitas ekonomi dilakukan baik individu maupun organisasi-organisasi kelembagaan ekonomi harus selalu mengacu pada etika moral, baik dalam melakukan produksi, konsumsi maupun distribusi. Demikian pula terkait moral ini adalah dalam melakukan usaha, mengembangkan usaha maupun mendistribusikan (mentasarufkan) perolehan keuntungan yang didapat.

  1. Realistis (Al-Waqi’iyyah)

Inti pemasaran adalah bagaimana produk yang ditawarkan seseorang dapat memikat orang lain untuk membeli atau memiliki barang dimaksud. Nah, seorang harus mengenal betul karakter orang yang bakal menginginkan bara-barang tersebut .maka secara intern seorang marketer syariah tiah tidah boleh kaku, eksklusif, tetapi ia harus focus dengan sebenanr-benar focus yang dalam istilah Dahla Iskan Menteri BUMN, bahwa dalam bisnis ia harus bertauhid. Inti bertauhid adalah meng-Esa-kan. Dan inti mengesakan adalah fokus. Tidak boleh gampang tergoda. Dalam bisnis dan dalam menejemen, godaan itu luar biasa banyak. Sebanyak godaan keimanan. Kalau sebuah bisnis tidak focus, Dia bisa jatuh musyrik[16].artinya bisnis bisa gagal, gulung tikar dan bubar jalan.

Selain itu pemasaran harus, sungguh-sungguh, hal tersebut seperti dikatakan Lino Direktur Utama PT Indonesia Port Coorporition, lembaga yang mengerjakan mega proyek pelabuhan baru Tanjung Priok yang menelan biaya RP 40 Triliun. Prinsipnya bahwa seberat apapun persoalan asal diurus secara sungguh-sungguh, maka ia akan berhasil seperti peapah ahli hukama; man jadda wajada ! jadi kuncinya adalah sungguh-sungguh itu.

Banyak orang yang mengatakan sudah sungguh-sungguh tapi tidak juga berhasil. Untuk orang seperti ini, rasanya perlu diukur kadar kesungguhannya itu. Seperti juga emas, sungguh-sungguh itu ada beberapa macam. Ada yang 24 karat, tapi juga ada yang 22 karat, 20 karat, dan bahkan ada yang hanya 18 karat. Jangan-jangan ada sungguh-sungguh yang tidak berkarat sama sekali. Lino tentu termasuk yang sungguh-sungguhnya 24 karat. Kalau hanya 20 mkarat tidak mungkin dia berhasil. Untuk menggambarkan beratnya merintis proyek ini, maka bandinganannya adalah membikin proyek jembatan Selat Sunda yang sangat sulit itu.

Inilah proyek yang bila jadi nanti bisa mengubah peta logistic nasional. Inilah satu proyek yang kalau jadi nanti nilainya lebih besar dari apa yang sudah dibangun di tanjung Priok selama 130 tahun. Proyek inilah yang akan membuat pelabuhan di Indonesia sejajar dengan pelabuhan-pelabuhan besar di dunia. Kalaupun tidak menang, kita kita tidak kalah lagi dari Malaysia atau singapura. Inilah pelabuhan yang dalamnya sampai 16 meter sehingga kapal terbesar di duniapun bisa bersandar di Jakarta[17]. Inilah the new Tanjung Priok.

Dalam kaitan ini seorang melakukan prinsip pemasaran atas produk baik jasa maupun perdagangan selain dituntut untuk fokus, sungguh-sungguh, maka ia juga harus ralistik dalam pelaksanaannya. Yakni komunikatif, bergaul dan bersilaturrahmi, bahkan ia juga diberikan kelonggaran (al afw) serta sengaja diberikan oleh Allah agar dapat menerapkan syari’ah secara realistic (al waqi’ah) agar dapat mengikuti zaman, termasuk kelonggaran yang didapat untuk bergaul dan silaturrahmi melakukan transaksi bisnis di tengah-tengan relitas kemunafikan, kecurangan, kebohongan dan penipuan yang lazim dan biasa terjadi di duni bisnis.[18]

  1. Humanistik (Al Insaniyah)

Etika bisnis islam memberikan pedoman bahwa barang dan cara memasarkan produk ini dibangun atas etika, kebenaran (honesty), kepercayaan (trust), persaudaraan (brotherhood), ilmu pengtahuan (knowledge), dan keadilah (justice). Jadi bisnis haru searah dengan nilai moral kebaikan yang harus terus dijunjung tinggi. Muhammad telah melakukan transaksi-transaksi perdagangannya secara jujur. Adil dan tidak pernah membuat pelanggannya mengeluh dan kecewa. Ia selalu menepati janji dan mengantarkan barang dagangannya dengan kualitas sesuai permintaan pelanggan. Reputasinya sebagai pedagnag yang benar-benar jujur telah tertanam dengan baik sejak muda. Ia selalu memperlihatkan rasa tanggung jawabnya setiap transaksi yang dilkukan. Lebih dari itu Muhammad juga meletakkan prinsip-prinsip dasar dalam melakukan transaksi dagang secara adil. Kejujuran dan dan keterbukaannya merupakan teladan abadi bagi para pengysaha generasi selanjutnya.[19]

Keistimewaan marketing syari’ah yang lain adalah sifatnya yang humanistis universal. Pengertian humanistis (al-insaniyyah) adalah bahwa syari’ah diciptakan untuk manusia agar derajatnya terangkat, sifat kemanusiaannya terjaga dan terpelihara, serta sifat-sifat kehewanannya dapat terkekang, dengan panduan syari’ah. Dengan memiliki nilai humanistis ia menjadi manusia yang terkontrol, dan seimbang (tawazun), bukan manusia yang serakah, yang menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya-besarnya. Manusia yang bisa bahagia di atas penderitaan orang lain, manusia yang hatinya kering dengan kepedulian sosial.

Syariat Islam adalah syariah humanistis (insaniyyah). Syariat Islam diciptakan untuk manusia sesuai dengan kapasitasnya tanpa menghiraukan ras, warna, kulit, tanah air, dan status. Hal inilah yang membuat syariah memiliki sifat universal sehingga menjadi syariat humanistis universal.

Syariat Islam bukan syariat bangsa Arab, walaupun Muhammad yang membawanya adalah orang Arab. Syariat Islam adalah milik Tuhan manusia bagi seluruh manusia. Dia menurunkan kitab yang berisi syariat sebagai kitab universal, yaitu Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya:

 

Maha Suci Allah yang Telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.[20]

 

Ayat pertama dalam Al-Qur’an, setelah basmalah, adalah

Segala puji[21] bagi Allah, Tuhan semesta alam[22]

Dan surah terakhir adalah

 

  1. Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang

memelihara dan menguasai) manusia.

  1. Raja manusia.
  2. Sembahan manusia.[23]

 

Dengan membawa syariat tersebut, Muhammad diutus sebagai Rasul universal.

 

Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.[24]

 

Katakanlah: “Hai manusia Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk”[25].

 

Yang dimaksud dengan universal (Al-Amaliyyah) seluruh penduduk planet ini sebagai satu kesatuan yang tidak terpisah.

Di antara dalil-dalil dan universal syariat Islam adalah prinsip ukhuwwah Islamiyah (persaudaraan antar manusia). Islam tidak mempedulikan semua faktor yang membeda-bedakan manusia baik asal daerahnya, warna kulit, maupun status social. Islam mengarahkan seruannya kepada seluruh manusia, bukan kepada kelompok orang tertentu, atas dasar ikatan persaudaraan antar sesama manuisia. Mereka semua adalah hamba Tuhan Yang Maha Esa yang telah menciptakan dan menyempurnakan mereka. Mereka semua adalah anak dari seorang laki-laki dan seorang perempuan (Adam dan Hawa). Status mereka sebagai hamba tuhan dan anak Adam telah mengkiatkan tali persudaraan mereka di antara mereka. Allah SWT berfirman:

 

$pkš‰r’¯»tƒ â¨$¨Z9$# (#qà)®?$# ãNä3­/u‘ “Ï%©!$# /ä3s)n=s{ `ÏiB <§øÿ¯R ;oy‰Ïnºur t,n=yzur $pk÷]ÏB $ygy_÷ry— £]t/ur $uKåk÷]ÏB Zw%y`͑ #ZŽÏWx. [ä!$|¡ÎSur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# “Ï%©!$# tbqä9uä!$|¡s? ¾ÏmÎ/ tP%tnö‘F{$#ur 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3ø‹n=tæ $Y6ŠÏ%u‘ ÇÊÈ

 

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[26]Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[27], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.

 

Alangkah indah kata kasih sayang (Al-Arhaam) dalam ayat yang ditujukan kepada seluruh manusia itu. Kata itu mengingatkan mereka tentang satu jiwa yang darinya tersebar keturunannya. Alangkah indah persaudaraan seluruh manusia yang ditunjukkan oleh ayat tersebut.

Allah SWT berfirman:

 

Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.[28]

 

Ayat ini tidak mengingkari keragaman suku dan bangsa, tetapi menyuruh semua manusia mengingat asal tempat mereka tumbuh. Mereka juga tidak boleh melupakan tujuan dibalik perbedaan tersebut, yaitu untuk saling mengenal dan menolong, bukan saling menaklukkan dan memerangi. Saling percaya satu sama lain, bukan saling curiga. Saling bantu membantu, bukan saling melempar bom. Oleh karena itu, Rasulullah SAW menyeru seluruh umat manusia agar saling menjalin persaudaraan, agar tidak saling mengungguli , dan tidak saling menganggu. Prinsip persaudaraan ini dijadikan prinsip utama risalahnya, sampai-sampai ada riwayat yang menjelaskan bahwa setiap akhir shalat, Rasulullah SAW berdoa dengan doa yang luas, mendalam dan merangkum seluruh dakwahnya ini.

 

“Ya Allah Tuhan kami, Tuhan dan Pemilik segala sesuatu. Aku bersaksi bahwa Engkau adalah satu-satunya Tuhan. Tidak ada sekutu bagimu. Ya Allah Tuhan kami, Tuhan dan Pemilik segala sesuatu. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaMu dan utusanMu. Ya allah Tuhan kami, Tuhan dan Pemilik segala sesuatu. Aku bersaksi bahwa seluruh hambaMu adalah bersaudara”.[29]

Alangkah indahnya jika doa rasulullah SAW ini, “…Aku bersaksi seluruh hambaMu adalah bersaudara” menjadi ciri dan karakter kita semua dalam segala interaksi dalam bisnis, dalam nermitra, dalam bersaing secara sehat, dan dalam membangun kembali bangsa kita yang sudah tercabik-cabik, saling curiga (su’udzan) satu sama lain, termasuk oleh provokasi kepentingan-kepentingan kelompok, sehingga tidak jarang nilai-nilai kemanusiaan kita yang hakiki menjadi hilang.

 

  1. Marketing Syariah dalam Bisnis Nabi
  2. Berbisnis cara Nabi

Muhammad adalah Rasulullah, Nabi terakhir yang diturunkan untuk menyempurnakan ajaran-ajaran yang diturunkan sebelumnya. Rasulullah SAW adalah suru tauladan umat-Nya,

 

ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqߙu‘ «!$# îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ

 

Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.[30]

 

Akan tetapi pada sisi lain Nabi Muhammad SAW juga adalah manusia biasa, ia makan, minum, berkeluarga, berhubungan dengan tetangga, berbisnis, memimpin perang, dan sekaligus sebagai pemimpin umat.

Aa’ Gym dalam salah satu tulisannya mengatakan, Nabi Muhammad SAW selain sebagai pedagang yang sukses juga pemimpin agama sekaligus kepala Negara yang sukses. Jarang ada Nabi seperti ini. Ada yang hanya sukses memimpin agama, tetapi tidak berhasil memimpin keluarga, tetapi semua contoh suri teladan yang kita butuhkan sudah ada pada diri Rasul SAW. Jadi sebenarnya kita sudah menemukan figure yang layak dijadikan idola, dan dijadikan contoh dalam mengurangi dunia bisnis.

Pada bagian ini, kita ingin memotret sisi lain dari Muhammad Nabiullah yaitu Muhammad sebagai seorang pedagang. Muhammad memberikan contoh yang sangat baik dalam setiap transaksi bisnisnya. Ia melakukan transaksi-transaksi secara jujur, adil dan tidak pernah membuat pelanggannya mengeluh apalagi kecewa. Ia selalu menepati janji dan mengantarkan barang dagangannya dengan standar kualitas sesuai permintaan pelanggan. Reputasinya sebagai pedagang yang benar dan jujur, telah tertanam dengan baik sejak muda. Ia selalu memperlihatkan rasa tanggung jawabnya terhadap setiap transaksi yang dilakukan.

Lebih dari itu, Muhammad juga meletakkan prinsip-prinsip dasar dalam melakukan transaksi dagang secara adil. Kejujuran dan keterbukaan Muhammad dalam melakukan transaksi perdagangan merupakan teladan abadi bagi pengusaha generasi selanjutnya.

Ucapan-ucapan Muhammad berikut ini telah menjadi kaidah yang sangat berharga bagi pekerja keras yang menjunjung tinggi profesionalisme dan kejujuran;

“Berusaha untuk mendapatkan penghasilan halal merupakan kewajiban, di samping sejumlah tugas lain yang telah diwajibkan.”[31]

 

“Tidak ada satu pun makanan yang lebih baik dari pada yang di makan dari hasil keringat sendiri”[32]

 

“Pedagang yang jujur dan dapat dipercaya termasuk dalam golongan para Nabi, orang-orang yang benar-benar tulus dan para syuhada”[33]

 

“Segala sesuatu yang hala dan haram sudah jelas, tetapi di antara keduanya terdapat hal-hal yang samar dan tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barang siapa berhati-hati terhadap barang yang meragukan, berarti telah menjaga agama dan kehormatan dirinya. Tetapi, barang siapa yang mengikuti hal-hal yang meragukan berarti telah terjerumus pada yang haram, seperti seorang gembala yang mengembalakan binatangnya di sebuah lading yang terlarang dan membiarkan binatang itu memakan rumput disitu. Setiap pengusaha mempunyai peraturan-peraturan yang tidak boleh dilanggar, dan Allah melarang segala sesuatu yang dinyatakan haram”[34]

 

“Allah memberikan rahmat-Nya pada setiap orang yang bersikap baik ketika menjual, membeli dan membuat suatu pernyataan”[35]

 

Hadist-hadist ini banyak menjadi panduan bagi pelaku bisnis syariah yang ingin mengembalikan cara-cara bisnis yang beradap dan bermoral, tanpa ada penipuan, penzhaliman, dan eksploitasi kelemahan orang lain untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Bisnis syariah adalah bisnis yang santun, bisnis yang penuh kebersamaan, dan penghormatan atas hak-masing-masing. Sebagaimana yang dicontohkan dalam bisnis Nabi.

  1. Muhammad Sebagai Marketer Syariah

Muhammad tidaklah diutus sebagai seorang pedagang. Ia adalah seorang Nabi dengan segala kebesaran dan kemuliaannya. Ia mengatakan dalam hadistnya: “Aku tidaklah diberi wahyu untuk menumpuk kekayaan atau menjadi salah seorang dari pedagang”

Rahasia keberhasilan dalam perdagangan adalah sikap jujur dan adil dalam mengadakan hubungan dagang dengan para pelanggan. Dengan berpegang teguh pada prinsip ini, Nabi telah memberi teladan cara terbaik untuk menjadi pedagang yang berhasil. Sebelum menikah dengan Khadijah, Nabi telah berdagang-sebagai marketing director Khadijah & Co, ke Syiria, Jerusalem, Yaman, dan tempat-tempat lainnya. Dalam perdagangan-perdagangan ini Nabi mendapatkan profit yang melebihi dugaan. Tidak Sepeserpun dana yang digelapkan, dan tak sesenpun yang dikorupsi oleh Nabi. Banyak marketer yang telah dipekerjakan oleh wanita yang shaleha ini selain Nabi, tapi tak seorang pun yang bekerja lebih memuaskan dibanding Nabi.

Wanita ini merasa senang dengan kejujuran, integritas, dan kemampuan berdagang Nabi sehingga sifat-sifat ini menimbulkan rasa cinta dan kasih sayang dalam diri Khadijah. Disini, nabi telah menunjukkan bagaimana cara berbisnis , yang tetap berpegang teguh pada kebenaran, kejujuran, dan sikap amanah, akan tetapi kita tetap bisa memperoleh profit yang optimal.

Nabi sangat menganjurkan umatnya untuk berbisnis (berdagang), karena dengan berbisnis dapat menimbulkan kemandirian dan kesejahteraan bagi keluarga, tanpa tergantung atau menjadi beban orang lain. Nabi berkata: “berdaganglah kamu, sebab lebih dari sepuluh bagian penghidupan, Sembilan di antaranya dihasilkan dari berdagang. Al-Qur’an mengatakan:

$uZù=yèy_ur u‘$pk¨]9$# $V©$yètB ÇÊÊÈ

 

Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan,[36]

 

Ini merupakan petunjuk untuk berdagang dan beberapa kegiatan lain agar seseorang dapat memenuhi kebutuhan pokok sehari-harinya. Al-Qur’an juga member motivasi untuk berbisnis pada ayat berikut:

 

šúïÏ%©!$# tbqè=à2ù’tƒ (#4qt/Ìh9$# Ÿw tbqãBqà)tƒ žwÎ) $yJx. ãPqà)tƒ ”Ï%©!$# çmäܬ6y‚tFtƒ ß`»sÜø‹¤±9$# z`ÏB Äb§yJø9$# 4 y7Ï9ºsŒ öNßg¯Rr’Î/ (#þqä9$s% $yJ¯RÎ) ßìø‹t7ø9$# ã@÷WÏB (#4qt/Ìh9$# 3 ¨@ymr&ur ª!$# yìø‹t7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# 4 `yJsù ¼çnuä!%y` ×psàÏãöqtB `ÏiB ¾ÏmÎn/§‘ 4‘ygtFR$$sù ¼ã&s#sù $tB y#n=y™ ÿ¼çnãøBr&ur ’n<Î) «!$# ( ïÆtBur yŠ$tã y7Í´¯»s9’ré’sù Ü=»ysô¹r& ͑$¨Z9$# ( öNèd $pkŽÏù šcrà$Î#»yz ÇËÐÎÈ

 

Orang-orang yang makan (mengambil) riba[37] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[38]. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahul[39] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

 

Nabi yang suci bersabda: “Mencari penghasilan halal merupakan suatu tugas wajib”. Abu Bakar, Khalifah pertama dari Khulafa al Rasyidin, memiliki usaha dagang bahan pakaian. Umar bin Khatab, pemimpin kaum beriman, sang penakluk kekaisaran Persia dab Byzantium, pernah menjadi pedagang jagung. Usman bin Affan dikenal sebagai konglomerat textile (pakkian), Demikian juga dengan Imam Abu Hanifah dikenal pedagang pakaian.

Ketika Nabi Hijrah ke Madinah, mereka mendapat nasehat dari nabi agar berdagang untuk memenuhi penghidupan mereka, dan dengan itu mereka pun menjadi sejahtera. Demikian banyak contoh-contoh yang membuktikan bahwa para sahabat Nabi yang sholeh senantiasa berprofesi sebagai pedagang, dan atau marketer dalam suatu komunitas bisnis. Nabi, dalam meningkatkan kesejahteraan sahabatnya, sangat menekankan pentingnya perdagangan dan perniagaan.

  1. Muhammad sebagai pedagang profesional

Tidak dapat disangsikan, jika mencermati sejarah hidup Muhammad (tarikh), Muhammad adalah seorang pedagang professional. Ia adalah seorang pedagang yang berbeda dibandingkan kebanyakan pedagang lainnya. Ia mengambil pekerjaan ini bukan sekedar memenuhi kebutuhannya, bukan juga untuk menjadi seorang jutawan, sebab ia tidak pernah memperlihatkan kecintaan yang sangat besar terhadap harta kekayaan. Karena berbisnis ini merupakan satu-satunya pekerjaan mulia yang tersedia baginya pada waktu itu, maka ia melibatkan diri didalamnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Adapun yang ia hasilkan hanya cukup sekedar menunjang kehidupannya. Betapapun kecilnya urusan dagang yang pernah ia lakukan selama remaja, ia melakukannya dengan segala kejujuran dan keadilan, serta tidak pernah memberikan kesempatan kepada pelanggannya untuk mengeluh. Ia selalu menepati janji, serta mengantar barang-barang yang kualitasnya telah disepakati kedua belah pihak tepat pada waktunya.

Dalam transaksi bisnisnya pun sebagai pedagang professional tidak ada tawar menawar dan pertengkaran antara Muhammad dan para pelanggannya, sebagaimana sering disaksikan pada waktu itu di pasar-pasar, di sepanjang jasirah Arab. Segala permasalahan antara Muhammad dan para pelanggannya, selalu diselesaikan dengan damai dan adil, tanpa ada kekhawatiran akan terjadi unsur-unsur penipuan di pihaknya.

 

abadi dalam segala jenis masalah perdagangan.

Reputasi Muhammad sebagai pedagang yang jujur, professional dan terpercaya telah terbina dengan baik sejak usia muda. Ia selalu memperlihatkan rasa tanggungb jawab dan integritas yang besar ketika berurusan dengan orang lain dalam berbisnis.

Sikap ini di bawanya ketika ia menjadi pemimpin umat. Dalam kaitan sikap profesionalisme, Rasulullah pernah mengatakan: “apabila urusan (manajemen) diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya”. Disini letak pentingnya profesionalisme dalam bisnis Islami. Islam sangat concern dengan profesionalisme, karena itu pula ketika Nabi memberikan tugas kepada sahabat-sahabatnya, ia sangat memperhatikan latar belakang dan kemampuan sahabat tersebut.

Suatu ketika ada seorang sahabat (Abu Dzar dan dua orang Asy’ari) yang belum mendapat tugas, datang bertanya kepada Nabi, kenapa dia tidak mendapat tugas (amanah) sementara sahabat-sahabatnya yang lain ada yang ditunjuk jadi gubernur (Mu’adz bin Jabal), bendahara Negara (Umar bin Khattab), panglima perang (Khalid bin Walid), dan sebagainya. Nabi mengatakan fisik kamu sangat lemah, sehingga tidak tepat dengan tugas-tugas berat seperti yang diberikan kepada mereka.

Disini terlihat bahwa ia bukan hanya bekerja secara professional, tetapi sikap profesionalisme ia praktekkan pula ketika telah dilantik menjadi Nabi. Ia me-manage sahabat-sahabatnya dengan prinsip-prinsip profesionalisme. Memberinya tugas sesuai kemampuan dan kapasitas yang dimilikinya. Tidak ada dalam kamus kepemimpinan Rasulullah hal-hal yang bersifat KKN, semuanya berjalan dengan professional dan tentunya dengan tutunan Ilahi.

  1. Muhammad Sebagai Pebisnis Yang Jujur

Menurut berbagai riwayat secara tegas menyatakan bahwa nabi Muhammad benar-benar memulai karirnya sebagai pedagang di usiaa yang masih sangat beliau, yakni sekitar usia 17 sampai 18 tahun.[40] Bahkan ada yang menyatakan lebih muda dari pada yang dissebutkan itu. Jelasnya, seperti kebanyakan anak muda yang muda dan punya harga diri, nabi tidak suka berlama-lama menjadi tanggungan pamannya yang miskin, dan harus sudah memulai usaha dagangannya sendiri. Inilah yang membawa ke berbagai Negara tetangga, terutama di dekat perbatasan Arab, kota-kota dagang di Yaman, Bahrain, Syiria dan bahkan ke Abysinia, meskipun kota terakhir ini tidak ditegaskan dengan laporan-laporan yang otentik.

Bagi orang jujur seperti Muhammad, ini merupakan hal yang wajar. Dalam mencari nafkah yang .halal, ia mesti bekerja keras menggeluti profesi dagang dan bisnis, tidak hanya untuk biaya hidup, tetapi juga membangun reputasi agar orang-orang kaya lebih maju dan mempercayakan dana mereka kepadanya. Muhammad mungkin merintis pekerjaan ini dengan modal yang kecil dan bekerjasama dengan beberapa janda kaya di kota Mekkah, atau mungkin bekerja sebagai agen seseorang untuk seseorang, atau boleh jadi hanya bekerja untuk mendapatkan upah tertentu pada tahap awal kehidupannya. Karena pengalamannya dalam berdagang dan reputasinya yang terkenal sebagai pedagang yang terpercaya dan jujur, maka ia memperoleh banyak kesempatan berdagang dengan modal orang lain. Hal tersebut tentu juga dana yang datang dati Siti Khadijah sebelum beliau menikahinya.

 

 

 

Daftar Pustaka

Aburdene. Patricia, Mega Trends 2010

Abdurrahman.Zein, Strategi Genius Marketing Ala Muhammad, ,Yogjakarta, Diva Press, 2011. Hal. 76

 

Afzalurrahman, Muhammad, 1997. Muhammad Sebagai Seorang Trader. Penerbit Yayasann Swarna Bhummy., Yogjakarta, hal. 8

 

Dahlan Iskan, Manufacturing Hope : Bisa ! Impian dan Gagasan Segar Dahlan dalam Mengelola BUMN, Penerbit PT. Elexe Media Computindo, Jakarta, 2012. Hal. 55

 

Kertajaya, Hermawan dan Syula, Sula, Syari’ah Marketing, Bandung, Miza, 2006, hal. 28

 

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1989, hal. 121

 

Buchori Alma, Pengantar Bisnis. Hal 16.

 

Fauroni. R. Lukman, Etika Bisnis dalam Al Qur’an, Yogjakarta, Pustaka Pesantren. Hal.

X

Jusmaliani, Bisnis Berbasis Syari’ah, hal. 5-6i

 

 

 

 

 

 

[1] Dosen Syari’ah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Kediri

[2] . Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1989, hal. 121

[3] . Buchori Alma, Pengantar Bisnis. Hal 16.

[4] . Fauroni. R. Lukman, Etika Bisnis dalam Al Qur’an, Yogjakarta, Pustaka Pesantren. Hal. xi

[5] . Bandingkan dengan tujuan ekonomi dalam Islam yang menyatakan bahwa sesungguhnya bisnis yang dilakukan manusia justri harus diawali dengan niat yang utuh, artinya bisnis haruslah dapat memberikan kesejsehteraan di dunia dan bahagia serta mulia di akherat.

[6] Lain lagi menurut jusmalani yang memiliki pandangan bahwa pemasaran (marketing) adalah suatu proses social dan menejerial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. Dalam jusmailani ; Bisnis Berbasis Syari’ah, Jakarta, Bumhi Aksara, 2008, hal. 1, yang dalam istilah lain bahwa pemasaran adalah berbagai upaya yang dilakukan agar memudahkan terjadinya penjualan atau perdagangan.

[7] . Abdurrahman.Zein, Strategi Genius Marketing Ala Muhammad, ,Yogjakarta, Diva Press, 2011. Hal. 76

[8] Kertajaya, Hermawan dan Syula, Sula, Syari’ah Marketing, Bandung, Miza, 2006, hal. 20

[9] Abdurrahman.Zein, Strategi Genius Marketing Ala Muhammad, ,Yogjakarta, Diva Press, 2011. Hal.5

[10] Ibid. hal. 67-80

[11] . Jusmaliani, Bisnis Berbasis Syari’ah, hal. 5-6

[12] . Aburdene. Patricia, Mega Trends 2010,

[13] . Kertajaya, Hermawan dan Syula, Sula, Syari’ah Marketing, Bandung, Miza, 2006, hal. 28

[14] . Dalam kepercayaan Islam terdapat dua fase kematian dan dua fase kehidupan; kematian pertama adalah masa ketika masa janin sampai bayi di kandungan seorang ibu. Serta kematian karena ajal yang memang menjadi sifat dasar yang dimiliki setiap mahluk. Sedang dua khidupan adalah; kehidupan pertamaa ketika manuai dilahirkan sampai meninggal dunia. Dan kehidupan kedua adalah ketika allah menghidupkan kembali manusia setelah bangkit dari kematian (hari kebangkitan).

[15] . S.Q; 99; 7-8

[16]. Dahlan Iskan, Manufacturing Hope : Bisa ! Impian dan Gagagsa Segar Dahlan dalam Mengelola BUMN, Penerbit PT Elexe Media Computindo, Jakarta, 2012. Hal. 55

[17] . Ibid, hl. 260

[18] Kartajaya, Syari’ah Marketing, 36-38

[19] Afzalurrahman, Muhammad sebagai seorang pedagang, Penerbit Yayasan Swarna Bhumy, Jakarta, 1997. Hal 1

[20] Maksudnya jin dan manusia. Lihat: (Q.S. Al-Furqaan 25:1),Qur’an in Word, Taufiq Product, Inc.

[21] Alhamdu (segala puji). memuji orang adalah Karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berrati: menyanjung-Nya Karena perbuatannya yang baik. lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah Karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji. Lihat: (Q.S. Al-Fatihah 1:2) Qur’an in Word, Taufiq Product, Inc.

[22] Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati yang Memiliki, mendidik dan Memelihara. Lafal Rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah). ‘Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah Pencipta semua alam-alam itu. Lihat: Ibid.

[23] (Q.S. Al-Anaas 114: 1-3), Qur’an in Word, Taufiq Product, Inc.

[24] (Q.S. Al-Anbiya’ 21: 107), Qur’an in Word, Taufiq Product, Inc.

[25] (Q.S. Al-A’raaf 7: 158.

[26] Maksud dari padanya menurut Jumhur Mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan muslim. di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan. Lihat: (Q.S. Al-Nisa 4: 1), Qur’an in Word, Taufiq Product, Inc.

[27] Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah. Ibid.

[28] (Q.S. Al-Hujurat 49: 13), Qur’an in Word, Taufiq Product, Inc.

[29] HR. Ahmad dari Zaid bin Arqam.

[30] (Q.S. Al-Ahzab, 33: 21), Qur’an in Word, Taufiq Product, Inc.

[31] HR. Baihaqi

[32] HR. Buhkari

[33] HR. Tarmidzi, Darimi, Daruqutni

[34] HR. Bukhari Muslim

[35] HR. Bukhari

[36] Q.S. An-Naba’, 78:11

[37] Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya Karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. riba yang dimaksud dalam ayat Ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman Jahiliyah. Lihat: (Q.S. Al-Baqarah 2: 275), Qur’an in Word, Taufiq Product, Inc.

[38] Maksudnya: orang yang mengambil riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan syaitan. Lihat: Ibid.

[39] Riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini, boleh tidak dikembalikan. Lihat: Ibid.

[40] . Afzalurrahman, Muhammad, 1997. Muhammad Sebagai Seorang Trader. Penerbit Yayasann Swarna Bhummy., Jakarta, hal. 8

أضف تعليق