Pembangunan Jiwa Dalam Dunia Akademis

PEMBANGUNAN JIWA DALAM DUNIA AKADEMIS
Oleh. Dr. Nur Hamid, MM.

“Orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (macam penderitaan): Kekalutan (pikiran) yang selalu menyertainya, kepayahan yang tiada henti, dan penyesalan yang tiada berakhir”
(Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah)

A. Menakar Jiwa
Perjalanan pulang ke Tanah Air dari Malaysia bersama 20 peserta shortcourse yang dilaksanakan di Universitas Teknologi Malaysia selama dua minggu memberikan kenangan spiritual yang mendalam bagi saya. Berawal dari perjumpaan dengan seorang kawan lama, setelah 5 tahun tak berjumpa. Kemudian kami diperjumpakan di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) Malaysia. Dalam perjumpaan tersebut banyak cerita-memori yang kami kenang, namun ada sebuah kata-kata dari kawan yang menjadikan saya berfikir keras untuk merenunginya. Kawan yang bergerak dibidang Teknologi di negeri jiran ini, disela-sela obrolan ia megatakan bahwa “sesungguhnya Allah memberikan kelahiran dari perut ibu kamu dalam keadaan laataklamuuna syaia (tidak mengetahui apapun) dan Allah menciptakan as sam’a, al abshor dan al af idah (pendengaran, penglihatan dan jiwa)”. Rupanya kawan saya itu menyitir surat An Nahl: 78.
Diruang tunggu bandara (waiting room) obrolan semakin menarik berbagi ilmu baik politik, ekonomi, social bahkan peradaban Islam. Kemudian ia pun mengatakan bahwa “dunia Barat mencatat peradaban Islam sebagai bangunan timur yang hebat adalah hasil dari ayat-ayat dalam kitab suci al Qur’an. Kehebatan yang dibangun dalam peradaban Islam sehingga melahirkan ilmuwan-ilmuwan muslim bukan karena as sam’a wal abshor” nya, tetapi karena al af idah yang telah Allah berikan”.
Kata al af idah inilah yang membuat saya berfikir keras hingga kembali lagi ke tanah air. Setelah saya buka beberapa referensi mencari makna af idah ternyata ada yang memaknainya sebagai sadr (hati bagian luar), qolbu (hati bagian dalam), fuad (hati yang lebih dalam) dan albab (hati nurani). Dalam hal ini saya lebih memaknai al af idah sebagai albab yang merupakan jamak dari “lubb” yang berarti racun, akal, hati, inti, dan sari. Menurut tasawuf istilah “lubb” adalah hati nurani (hatinya hati). Dari makna ini saya mulai berfikir sebagai muslim yang akademis, Bagaimana pemanfaatan al af idah dalam dunia akademisi? Bagaimana konteks al af idah bagi pencari ilmu (pelajar/mahasiswa)? Bagaimana al af idah bagi seorang guru atau dosen? Bagaimana al af idah bagi karyawan atau pegawai?.
Tentunya akan berbeda seorang muslim dengan non-muslim dalam penggalian ilmu pengetahuan. Barat yang hanya menggunakan pendengaran, penglihatan dalam pengkajian dan penelitian ilmu pengetahuan mampu melahirkan empirisisme yang bersifat keduniawian saja. Tetapi, ketika pengkajian dan penelitian ilmu pengetahuan melibatkan al af idah maka akan menjadi Islamic knowledge, seorang muslim dalam pengkajian dan penelitiannya terhadap ayat kauniyah selalu melibatkan ayat kauliyah, selalu mengaitkan amalnya dengan ilahiyah. Karena sifat daripada al afidah yang selalu terikat dengan Penciptanya. Sehingga, dari sekedar pendengaran dan penglihatan kemudian melibatkan al afidah akan memunculkan cahaya ilmu (nur), maka minaddzulumati ila an nur harus menjadi tujuan bagi setiap muslim, khususnya bagi akademisi agar ilmu yang diberikan oleh guru dan diperoleh oleh mahasiswa bermanfaat untuk kemaslahatan umat “khairunnas anfa’uhum linnas”.
B. Konsep Diri
Setelah memahami dan menemukan al af idah dalam diri, maka yang perlu dipahami selanjunya adalah konsep diri sebagai manusia. Menurut pakar Ilmu psikologi William D Brooks, mengatakan bahwa pengertian konsep diri pandangan atau perasaan tentang diri kita baik bersifat psikologis, social maupun fisik. Sedangkan dalam psikoogis, konse diri merupakan keseluruhan yang dirasakan, diyakini benar oleh seseorang mengenai dirinya sebagai individu, sebagai insane yang terbiasa berfikir kritis analitis yang mampu melihat potensi dirinya untuk lebih kreatif dan produktif.
Terdapat tiga tingkatan konsep diri, yaitu (1) Aku Diri: aku seperti yang aku pahami, yaitu cara kita mempersepsikan diri kita. Setiap kita memiliki pemahaman seperti itu adanya, (2) Aku Sosial: aku seperti yang dipahami oleh orang lain disekitar kita, (3) Aku Ideal: aku yang seperti yang aku inginkan, yaitu pemahaman dan keyakinan terhadap diri yang begitu ideal.
Ketiga tingkatan konsep diri harus disatukan dan saling dikaitkan, sehingga terdapat keseimbangan dalam mengepresikan diri. konsep diri tidak bisa hanya dimaknai aku “individu” yang melahirkan egoisme diri. Namun harus dimaknai secara luas sehingga menemukan konsep diri secara utuh, baik untuk dirinya, social dan lingkungannya.
C. Nilai Hidup, Kepercayaan dan Keyakinan
Untuk mampu membangun nilai hidup, kepercayaan dan keyakinan perlu kiranya kita belajar dari banyak tokoh yang telah memberikan hidupnya untuk ilmu, masyarakat dan negara. Misalnya kisah heroic dari salah satu sahabat Rasulullah sebut saja Bilal bin Robah dalam mempertahankan keyakinannya. Mahatma Gandhi yang selama hidupnya dicurahkan pada cinta dan kasih sayang serta perhatiannya kepada orang lain. Coba perhatikan juga Jendral Besar Sudirman sang pejuang yang ikhlas dan sederhana saat dia memimpin perang gerilya, pada masa kolonial Belanda merupakan pribadi-pribadi yang unggul tiada mengenal takut dan gentar.
Kehebatan perjuangan dan prestasi mereka tetap terukir walaupun jasad mereka telah lama tiada dan saya yakin karena dalam diri mereka telah dilandasi dan dibimbing dengan keyakinan nilai hidup dan kepercayaan yang bermuara pada prestasi dan kemanfaatan bagi orang lain.
Tiga hal tersebut terletak pada integritas diri dalam mengoptimalkan potensi yang telah diberikan oleh Allah. Kunci membangun nilai hidup, menumbuhkan kepercayaan dan keyakinan serta memahami konsep diri adalah Al Af idah, karena Al Af idah mampu menginterkoneksikan apapun dalam diri, ketika mendapatkan petunjuk dan jalan lurus dalam kesadaran ilahiyah. Oleh karena itu, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah Benarkah konsep al Af idah yang ada dalam diri kita? Apa bentuk al Af idah dalam diri kita? Bagaimana pendapat anda tentang al Af Idah? Silahkan memberikan interpretasi sendiri tentang al af idah dalam diri anda.

HIKMAH:
Dari pertemuan tersebut mengajarkan pada saya untuk menjadi kawan terbaik : dengan melihat diri kita mengingatkan mereka pada Allah, dengan melihat perkataan kita bertambah amal kebaikan, dengan melihat amal-amal kita mengingatkan hari akhir (kiamat).

أضف تعليق