Tantangan Sistem Keuangan Islam Sebagai Alternatif Sistem Keuangan Global

TANTANGAN SISTEM KEUANGAN ISLAM SEBAGAI ALTERNATIF SISTEM KEUANGAN GLOBAL

Oleh: Nur Chamid*

Abstrak

Dalam sejarah ekonomi dunia, ternyata krisis sering terjadi di mana-mana dan melanda hampir semua negara yang menerapkan sistem kapitalisme. Kapitalisme modern saat ini dibangun dengan monetary based economy (ekonomi berbasis sektor moneter atau keuangan atau non-real), bukan real based economy (ekonomi berbasis sektor riil). Artinya, Kapitalisme dominan bermain di level atas dari ekonomi real. Rente (keuntungan) ekonomi diperoleh bukan melalui kegiatan investasi produktif (produksi barang dan jasa), melainkan dalam investasi spekulatif melalui sektor non-real (keuangan); misalnya melalui kredit perbankan serta jual-beli surat berharga seperti saham dan obligasi. Dalam ekonomi berbasis sektor moneter atau keuangan inilah, Kapitalisme tidak dapat dilepaskan dengan bunga (riba).

Bunga (riba) merupakan fenomena ekonomi yang selalu menjadi perdebatan sepanjang sejarah oleh para filusuf, ekonom, maupun oleh ajaran semua agama. Islam sama sekali tidak mengenal kompromi terhadap riba atau suku bunga. Islam mengharamkan secara pasti (qath’i), ini justru akan menjadikan perkara haramnya riba itu sebagai ma’lumun minad diin biddlarurah (perkara agama yang sudah diketahui halal atau haramnya dalam agama secara otomatis). Menurut Islam semestinya otoritas ekonomi global mulai menyadari bahwa dalam rangka mewujudkan keinginan menjadi ekonomi keuangan berbasis riil adalah meluruskan kesalahan pandangan terhadap kedudukan uang yang tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar tapi juga sebagai komoditi, serta pembuatan mata uang tidak menggunakan basis emas atau perak sehingga nilai nominal tidak menyatu dengan nilai intrinsiknya, inilah yang menjadi biang dari segala keruwetan ekonomi kapitalis. Mengatasi krisis keuangan yang hingga kini masih terus berlangsung, di samping harus menata sektor riil, yang paling penting adalah meluruskan pandangan keliru tersebut. Dengan cara itu, sistem ekonomi yang bertumpu pada sektor riil akan berjalan mantap, tidak mudah goyang atau digoyang seperti saat ini. Disinilah keunggulan sistem ekonomi Islam.

 

Key Word : Bunga, Kapitalisme, Keuangan Islam.

 

  1. Pendahuluan

Sistem keuangan global yang berlaku saat ini sebagian besar menganut sistem ekonomi berbasis bunga. Dalam ruang lingkup domestic masing-masing negara, sistem keuangan menitikberatkan pada kebijakan ekonomi menuju keseimbangan menggunakan instrumen bunga, sehingga bunga menjadi variable vital dalam penyusunan kebijakan ekonomi baik moneter maupun fiskal.[1] Pada ruang lingkup global, perekonomian berbasis bunga membentuk corak interaksi keuangan menjadi khas. Dari perspektif analisis kritis, bunga membuat sistem keuangan global menjadi pincang, dimana negara-negara miskin dan berkembang harus terus tergantung secara financial kepada negara maju. Sifat pre-determined return bunga akan membuat perilaku para pemegang kapital cenderung menggunakan uangnya sebagai alat untuk men-generate pendapatan melalui sektor financial dari pada mendapatkan keuntungan melalui aktivitas produktif di sektor riil. Kecenderungan ini pada tingkat negara semakin memperdalam kepincangan financial global. Negara-negara maju menjadi korban debt addicted, sementara negara-negara miskin dan berkembang tak pernah bisa bebas dari jeratan utang yang terus menggelembung.[2]

Globalisasi[3] yang mengedepankan peran korporasi swasta dalam pengaturan perekonomian, terlihat jelas dalam praktek sistem keuangan ini. Menyerahkan kekuasaan ekonomi pada kekuatan pasar berarti menyerahkan arah kebijakan ekonomi khususnya keuangan kepada para CEO-CEO institusi keuangan besar global. Secara umum telah difahami, bahwa pasar keuangan yang berlaku saat ini begitu rentan diintervensi oleh berbagai kepentingan. Kepentingan-kepentingan yang memanfaatkan sensitifitas pasar keuangan terhadap informasi atau bahkan sekedar rumor. Sehingga penciptaan sebuah informasi yang cenderung bersifat asimetris yang sebenarnya merefleksikan sebuah ketidaktransparanannya acapkali dilakukan spikulan. Dan akhirnya, melalui kelemahan ini pemain-pemain pasar keuangan memperoleh peluang untuk mendapatkan keuntungan. Hal itulah yang terus menerus dialami negara-negara global termasuk Indonesia ketika mata uang lokal (rupiah) terpuruk atas mata uang asing dolar Amerika.

Dengan karakteristik pasar modern seperti saat ini, kejujuran menjadi nilai yang vital sekaligus dibutuhkan oleh pasar dalam menciptakan sebuah mekanisme pasar yang sehat dan bersifat membangun. Karena menjaga agar informasi pasar tetap baik, transparan dan informatif yang benar adanya diperlukan satu nilai kejujuran. Namun perilaku yang jujur dalam hal ini harus berhadapan dengan kepentingan profit, dimana keduanya tidak selalu searah dengan tujuan kejujuran seiring dengan perkembangan usaha. Interaksi keduanya inilah yang kemudian membuat wajah ekonomi Klasik yang mendewakan kekuatan pasar tercoreng, karena teori mereka tidak pernah memiliki fakta dalam perekonomian. Sesuatu yang abadi terjadi adalah asimetris informasi, tidak transparan, misalokasi produksi, dan tidak meratanya distribusi sumber daya.

Sampai pada akhirnya krisis keuangan hebat terjadi di Amerika Serikat, sebuah bencana besar di sektor ekonomi keuangan. Bangkrutnya Lehman Brothers, perusahaan sekuritas berusia 158 tahun milik Yahudi ini menjadi pukulan berat bagi perekonomian AS yang sejak beberapa tahun terakhir mulai goyah. Para analis menilai, bencana pasar keuangan akibat rontoknya perusahaan keuangan dan bank-bank besar di negeri Paman Sam satu per satu, tinggal menunggu waktu saja. Bangkrutnya Lehman Brothers langsung mengguncang bursa saham di seluruh global. Bursa saham di kawasan Asia seperti di Jepang, Hongkong, China, Australia, Singapura, India, Taiwan dan Korea Selatan, mengalami penurunan drastis 7 s/d 10 persen. Termasuk bursa saham di kawasan Timur Tengah, Rusia, Eropa, Amerika Selatan dan Amerika Utara. Tak terkecuali di AS sendiri, Para Investor di Bursa Wall Street mengalami kerugian besar, bahkan surat kabar New York Times menyebutnya sebagai kerugian paling buruk sejak peristiwa serangan 11 September 2001.[4]

Indonesia juga terkena dampaknya. Pada tanggal 8 Oktober 2008, kemarin, INSG tertekan tajam turun 10,38 %, yang membuat pemerintah panik dan terpaksa menghentikan (suspen) kegiatan pasar modal beberapa hari. Demikian pula Nikken di Jepang jatuh lebih dari 9 %. Pokoknya, hampir semua pasar keuangan global terimbas krisis financial US tersebut. Karena itu para pengamat menyebut krisis ini sebagai krisis finansial global. Krisis keuangan global yang terjadi belakangan ini, merupakan fenomena yang mengejutkan global, tidak saja bagi pemikir ekonomi mikro dan makro, tetapi juga bagi para elite politik dan para pengusaha.[5]

Dalam sejarah ekonomi, ternyata krisis sering terjadi di mana-mana dan melanda hampir semua negara yang menerapkan sistem kapitalisme[6]. Krisis demi krisis ekonomi terus berulang tiada henti, sejak tahun 1923, 1930, 1940, 1970, 1980, 1990, dan 1998-2001 bahkan sampai saat ini krisis semakin mengkhawatirkan dengan munculnya krisis finansial di Amerika Serikat. Krisis itu terjadi tidak saja di Amerika latin, Asia, Eropa, tetapi juga melanda Amerika Serikat.[7]

Kapitalisme modern saat ini dibangun dengan monetary based economy (ekonomi berbasis sektor moneter atau keuangan atau non-real), bukan real based economy (ekonomi berbasis sektor riil). Artinya, Kapitalisme dominan bermain di level atas dari ekonomi real. Rente (keuntungan) ekonomi diperoleh bukan melalui kegiatan investasi produktif (produksi barang dan jasa), melainkan dalam investasi spekulatif melalui sektor non-real (keuangan); misalnya melalui kredit perbankan serta jual-beli surat berharga seperti saham dan obligasi. Dalam ekonomi berbasis sektor moneter atau keuangan inilah, Kapitalisme tidak dapat dilepaskan dengan bunga (riba).[8]

Sistem ekonomi non-real ini berpotensi besar untuk meruntuhkan sistem keuangan secara keseluruhan[9]. Menurut The Morgan Stanley yang dikutip David Ignatius (Washington Post, 15/11/2002), pada tahun 2001 dan 2002 jumlah obligasi yang default (gagal bayar) sebesar Rp 1.650 triliun. Jumlah ini lebih besar dari pada jumlah obligasi yang default selama 20 tahun sebelumnya jika seluruhnya diakumulasikan. Kompas (16/01/2003) memberitakan, US$ 277 miliar obligasi di Amerika tidak bisa dibayar. Ini baru dari aspek surat berharga obligasi yang berbasis bunga (interest based).

Dari aspek kredit bank juga dapat diketahui, bahwa kualitas aktiva produktif (kredit) di Amerika semakin lama semakin turun. Menurut data Moody’s Ratio of Credit Downgrades to Upgrades, terlihat bahwa kredit bank di Amerika semakin menurun sejak tahun 1995 hingga tahun 2003. Ini membuktikan, bahwa pola kredit perbankan berbasis bunga dapat membahayakan kelangsungan perbankan itu sendiri, dan pada akhirnya dapat membahayakan sektor riil dan perekonomian secara umum.

Dalam persoalan tersebut Islam memiliki pandangan berbeda dengan sistem yang digunakan Kapitalisme dalam menata sistem keuangan. Islam tidak mengakui keberadaan sektor non-real berbasis bunga, karena Islam telah mengharamkan riba, termasuk bunga (QS 2: 275).

Orang-orang yang makan (mengambil) riba[10] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[11]. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu[12] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Al-Baqarah: 275).

 

Dalam pandangan Islam, uang bukanlah komoditi yang karenanya mempunyai harga. Harga uang inilah yang dalam teori-teori Kapitalisme disebut bunga. Menurut buku UK Budget Red Books 1990, “Suku bunga” merupakan harga dari uang dan kredit (El-Diwany, 2003). Uang dalam Islam hanyalah sebagai alat tukar saja, bukan sebagai komoditi sebagaimana dalam Kapitalisme.

Dengan kata lain, ekonomi Islam adalah real based economy (ekonomi berbasis sektor riil). Ini merupakan kebalikan total dari ekonomi Kapitalisme yang dibangun dengan monetary based economy. Keuntungan hanya diperoleh melalui jerih payah nyata (riil) dalam produksi barang atau jasa.

 

  1. Sistem Moneter Barat Adalah Sistem Berbasis Riba

Dalam sistem keuangan ekonomi Barat (konvensional), riba atau suku bunga (interest) ibarat nyawa yang tidak dapat dilepaskan begitu saja dari tubuhnya. Riba sudah sedemikian menyatu dalam sistem ekonomi kapitalis tersebut. Padahal sejak zaman Yunani kuno, praktek riba tidak disukai dan dikecam. Tidak kurang Aristoteles sendiri mengutuk sistem pembungaan uang dengan mengumpamakan riba sebagai ayam betina yang mandul dan tidak bisa bertelur.

Pakar ekonomi kapitalis zaman klasiklah yang telah memberi landasan pada sistem ekonomi kapitalis modern mengenai keberadaan suku bunga atau riba. Adam Smith dan Ricardo, misalnya menganggap bahwa bunga atau riba itu seperti ganti rugi yang diberikan oleh si peminjam kepada pemilik uang atas keuntungan yang diperolehnya dari pemakaian uang tersebut. Dengan demikian, bunga uang / riba itu adalah hadiah atau balas jasa yang diberikan kepada seseorang karena dia telah bersedia menunda pemenuhan kebutuhannya. Sedangkan menurut Marshall, bunga uang dilihat dari aspek penawaran merupakan balas jasa terhadap pengorbanan bagi kesediaan seseorang untuk menyimpan sebagian pendapatannya ataupun jerih­payahnya melakukan masa penungguan (Principle of Economic, Marshall, hal 534). Lebih lanjut Marshall menambahkan bahwa besarnya tingkat suku bunga/riba terletak pada titik potong antara grafik permintaan dan persediaan jumlah tabungan. Apabila jumlah tabungan sangat banyak sementara permintaan merosot tentu saja akan menurunkan tingkat suku bunga. Sebaliknya jika tingkat permintaan tinggi sedangkan jumlah tabungan sedikit, akan mengatrol tingkat suku bunga. Teori ini secara langsung menjelaskan bahwa tingkat permintaan, yang biasanya berbentuk aktivitas ekonomi riil dan relevan dengan tingkat penanaman modal amat berkait erat satu dengan yang lain. Artinya tingkat suku bunga berhubungan dengan jumlah tabungan dan aktivitas penanaman modal (usaha ekonomi rii1). Tingkat suku bunga yang tinggi diyakini oleh sebagian masyarakat akan mampu memacu aktifitas ekonomi karena tersedianya dana yang melimpah.[13]

Pendapat tersebut telah dibantah oleh sebagian pakar ekonomi Kapitalis sendiri, dan pada intinya mereka menjelaskan sebagai berikut:

  1. Teori bunga di atas telah dikritik oleh Keynes. Ia mengungkapkan bahwa bunga bukanlah hadiah atas kesediaan orang untuk menyimpan uangnya. Sebab setiap orang bisa saja menabung tanpa meminjamkan uangnya untuk memperoleh bunga uang, sementara yang dipahami selama ini bahwasanya setiap orang hanya dapat memperoleh bunga dengan meminjamkan lagi uang tabungannya itu. Keynes menyimpulkan bahwa suku bunga itu hanyalah pengaruh angan-angan manusia saja (highly conventional), dan setiap suku bunga uang terpaksa diterima oleh masyarakat, yang dalam pandangan orang kebanyakan terlihat menyenangkan.
  2. Adapun hubungan tingkat suku bunga dengan struktur permodalan yang ada, Keynes mengatakan bahwa suku bunga di dalam suatu masyarakat yang berjalan normal akan sama dengan nol (tidak ada bunga), dan ia amat yakin bahwa manusia bisa memperoleh uang dengan jalan berusaha.
  3. Dalam situasi resesi ekonomi atau pada saat terjadi economic boom fenomena, yakni bertambahnya penanaman modal dalam jumlah yang sama dengan tabungan masyarakat (karena tingkat suku bunga yang tinggi) adalah anggapan yang salah dan keliru. Sebagaimana yang kita rasakan pada saat resesi, meski bunga bank digenjot setinggi-tingginya dan berhasil mengumpulkan dana masyarakat puluhan triliun rupiah, tetap saja usaha dan penanaman modal dalam sektor ekonomi riil
  4. Dilihat secara umum seseorang yang menambah jumlah tabungan atau depositonya menurut Keynes pada dasarnya akan mengurangi jumlah tabungan orang lain. Pengalaman selama Perang Global ke-2 di AS saja terbukti bahwa pertumbuhan tabungan masyarakat justru lebih tinggi dengan bunga rendah (l%), dibandingkan dengan sebelumnya yang tingkat bunganya lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah tabungan tidak ditentukan oleh besarnya tingkat suku bunga, akan tetapi ditentukan oleh tingkat penanaman modal (aktifitas ekonomi riil). Begitu pula kita dapat melihat fenomena antara negara-negara industri (yang tingkat suku bunganya rendah) dan jumlah tabungan masyarakatnya besar dengan negara-negara miskin yang memiliki tingkat suku bunga amat tinggi, akan tetapi jumlah tabungannya tetap rendah.

 

  1. Pandangan Islam Terhadap Bunga atau Riba

Bunga merupakan fenomena ekonomi yang selalu menjadi perdebatan sepanjang sejarah oleh para filusuf, ekonom, maupun oleh ajaran semua agama. Hal tersebut telah berlangsung sejak tahun 2000 SM. hingga saat ini. Teks-teks India kuno, yakni dalam teks Vedic (2000-1400 SM), Sutra (700-100 SM), dan Jatakas dalam Budha (600-400 SM), telah membahas tentang adanya larangan meminjamkan uang dengan memungut bunga (riba). Dua tokoh etika terkemuka global era praklasik yakni Plato (427-347 SM) dan Aristotales (384-322 SM), mengecam orang yang memperdagangkan dan membungakan uang dengan alasan hal tersebut bertentangan dengan etika dan merusak hubungan antar manusia, karena fungsi utama uang bukanlah komoditas yang diperjual belikan melainkan sebagai alat tukar dan pengukur nilai, sehingga manakala uang menghasilkan uang dilarang!

Lebih jauh agama Yahudi juga menentang bunga sebagai mana ditulis dalam Kitab Perjanjian Lama dan Kitab Talmud, yaitu Kitab Ekxodus (Keluaran) pasal 22 dan 25, dalam Kitab Doeteronomy (Ulangan) pasal 23 ayat 19 dan Kitab Levisitas (Imamat) pasal 25 ayat 36-37 semua isinya adalah membahas tentang kecaman dan larangan praktek bunga. Agama Nasrani sendiri seperti dijelaskan dalam Lukas 6:34-35 juga mengecam dan melarang praktek bunga ini. Ayat tersebut secara eksplisit menjelaskan bahwa apabila meminjamkan sesuatu dilarang mengharapkan balasan. Bahkan Dewan Nicea (325 SM), meskipun telah melakukan banyak kompromi tentang prinsip-prinsip bunga di bawah tekanan Raja Konstantinopel, namun wakil-wakil gereja menolak menanggalkan keyakinannya mengenani larangan atas bunga tersebut sebagaimana Luter dan Zwingi mengadakan penolakan dari dalam kalangan Pembaharu dalam Agama Kristen.

Secara kronologis Islam mengharamkan bunga (riba) mulai dengan bahasa yang halus sampai yang tegas hingga lima tahap. Pertama, menolak anggapan bahwa pinjaman riba yang tampak dzohirnya seakan-akan menolong bagi mereka yang membutuhkan, sebagai amal yang menjadikannya dekat pada Allah agar harta itu bertambah, ternyata justru hal tersebut akan berkurang disisi Allah (Q.S. Ar Rum; 39). Kedua, riba digambarkan sebagai sesuatu yang buruk dan perbuatan yang zalim, maka atas perbuatan tersebut Allah mengancam akan membalas bagi orang yang memakan sesuatu dari hasil praktek riba dengan balasan yang keras. (Q.S. An Nisa; 160-161), Ketiga, riba identik dengan tambahan yang berlipat ganda (Q.S. Ali Imron; 130). Keempat, Allah secara jelas dan tegas mengharamkan apapun jenis tambahan (riba) yang diambil dari pinjaman. Orang yang makan riba diibaratkan seperti seorang yang terkena penyakit gila sebab kerasukan setan. Bagi orang yang mengetahui haramnya hukum riba lalu berhenti mengambil riba, maka riba yang telah diambil akan diampuni. Namun manakala mereka tetap melakukannya serta terus mengulanginya, maka dia adalah calon penghuni neraka serta kekal di dalamnya (Q.S. Al Baqarah; 275-276). Kelima, Allah dan Rasul-Nya mengancam akan memerangi apabila tidak meninggalkan riba walaupun hanya sisanya saja. Tetapi Allah juga mengampuninya bila mau bertaubat (Q.S. Al Baqarah; 278)

Riba, sebagaimana penjelasan di atas adalah tambahan yang diberikan oleh debitur kepada kreditur atas pinjaman pokoknya, sebagai imbalan atas tempo pembayaran yang telah disyaratkan. Maka riba ini mengandung tiga unsur: (1) Kelebihan dari pokok pinjaman, (2) Kelebihan pembayaran sebagai imbalan tempo pembayaran, (3) Jumlah tambahan yang disyaratkan di dalam transaksi. Maka setiap transaksi yang mengandung tiga unsur ini dinamakan riba.[14]

Untuk lebih memperjelas pemaparan di atas dapat kita mengerti ketegasan Islam yang melarang praktek riba atau bunga uang. Bahkan sikap Islam terhadap pelaku riba amat kerasnya sampai-sampai SWT dan Rasul-Nya menyatakan perang terhadap mereka.

 

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka Ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (Q.S. Al Baqarah: 278-279).

Menanggapi ayat-ayat riba yang tercantum dalam QS Al Baqarah ini (khususnya ayat 279) Abdullah bin Abbas mengatakan:

“Siapa saja yang masih tetap mengambil riba dan tidak mau meninggalkanrrya, maka telah menjadi kewajiban bagi seorang Imam (Kepala Negara Khilafah Islamiyah) untuk menasehati orang-orang terse but. Akan tetapi kalau mereka masih tetapmembandel, maka Imam dibolehkan untuk memenggal leherya/menghukum mati.” (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir, jilid I, hat 331).

Rasulullah SAW telah menjelaskan dalam haditsnya tingkat kekejian terhadap riba dalam sabdanya:

“Riba itu 73 macam. Sedangkan (dosa) yang paling ringan (dari macam-macam riba itu) adalah seperti seseorang yang menzinahi ibu kandungnya sendiri.” (HR Ibnu Majah).[15]

 

“Allah melaknat pemakan riba, yang memberi riba, saksi-saksi dan penulisnya.” (HR Bukhari Muslim)

 

Jadi, Islam sama sekali tidak mengenal kompromi terhadap riba atau suku bunga. Islam mengharamkan secara pasti (qath’i), ini justru akan menjadikan perkara haramnya riba itu sebagai ma’lumun minad diin biddlarurah (perkara agama yang sudah diketahui halal atau haramnya dalam agama secara otomatis). Islam melarang pula pengembangan usaha sekaligus pengembangan harta melalui cara riba. Sebab riba adalah upaya mengeksploitasi usaha manusia lainnya, dan ini bagian dari aktifitas yang tidak mendorong seseorang untuk bekerja keras. Bayangkan saja pada puncak krisis yang lalu, dimana suku bunga deposito mencapai 50% pertahun, seseorang yang memiliki uang Rp 100 juta misalnya, cukup mendepositokan untuk jangka waktu satu bulan, akan memperoleh bunga ribanya satu bulan Rp 4,16 juta. Berarti, tanpa bekerjapun ia akan hidup lebih dari cukup. Dan ia tidak menerima resiko sekecil apapun serta tidak peduli dari mana bank memperoleh keuntungannya agar mampu membayar bunga yang ditawarkan kepada masyarakat. la tidak mengerti atau pura-pura tidak tahu, bahwa bankpun meminjamkan uangnya kepada usahawan-usahawan yang giat bekerja, mengeksploitasi mereka dan menekan agar mereka harus memperoleh keuntungan lebih tinggi dari bunga pinjaman bank.

 

  1. Bunga Adalah Pemisah Sektor Moneter dengan Sektor Riil

Bunga memiliki kolerasi positif dengan penawaran dana investasi, namun berpengaruh negatif dengan investasi (permintaan dana). Apabila bunga naik, maka akan meningkatkan penawaran investasi (tabungan), tetapi akan menurunkan permintaan investasi. Turunnya investasi berdampak buruk terhadap perekonomian. Pertumbuhan menurun, produksi menurun, pengangguran meningkat, kemiskinan meningkat, serta menyebabkan inflasi tinggi. Sebaliknya apabila bunga turun maka penawaraan investasi (tabungan) turun, tetapi permintaan investasi meningkat. Itulah permasalahan yang sulit dijawab oleh sistem riba/bunga, dan semakin memperjelas bahwa bungalah yang memisahkan sektor moneter dengan sektor riil.

Faktanya kedua sektor tersebut tidak mungkin dipisahkan, karena sektor moneter merupakan pelumas perekonomian. Sedangkan mesin perekonomian adalah sektor riil, maka bagaimana jika keduanya dipisahkan? maka yang terjadi adalah sektor moneter akan menganaktirikan sector riil. Lebih jauh yang terjadi uang menjadi tidak prduktif karena ia hanya akan mengalir menuju bungan yang tinggi. Faktanya adalah dana perbankan konvensional banyak tertanam di SBI, karena dengan menaruhnya di SBI akan mendapat return di atas bunga tabungan sehingga perbankan telah untung dan terhindar dari negative spread. Mereka beralasan apabila menyalurkan ke sektor riil resikonya tinggi. Padahal paradigma investasi adalah hight risk hight return. Sehingga tidak heran bila pertumbuhan sektor riil tdak tumbuh dengan maksimal. Sedang sektor keuangan telah mengecoh perekonomian nasional. Dengan kata lain tingginya pertumbuhan sektor keuangan global yang berbasis riba cenderung tidak menyentuh sektor riil secara maksimal. Sebagai bahan perbandingan atas survey dalam M. Umar Chapra[16] di pasar valuta asing yang dilakukan oleh Bank Internatioanal Settlement (BIB; 1998). Bahwa perputaran uang perhari/dayly turnover di pasar valuta asing tradisional, dengan perhitungan ganda (double accounting) perbulan april 1998 mencapai 1490 milliar US Dollar. Perputaran uang saat itu lebih dari 49 kali volume perdagangan barang di global (ekspor impor).[17]

Dana perbankan nasional yang berputar di SBI mulai tahun 2000-2009 terus mengalami kenaikan yang signifikan. Datanya berturut-turut (Triliyun) adalah tahun 2000: Rp. 937,2 T, tahun 2001: Rp. 974,46 T, tahun 2002: Rp. 988,26 T, tahun 2003: Rp. 1.197,38 T, tahun 2004: Rp. 1.197,06 T, tahun 2005: Rp. 1.100,92 T dan yang fantastik adalah tahun 2006 sebesar Rp. 1.867,07 T, (Laporan Tahun Bank Indonesia 2000-2006). Berdasarkan data tersebut mestinya Negara kita tidak kesulitan dalam menggerakkan sektor riil untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang diinginkan. Tetapi apa yang terjadi? Negara selalu bingung menarik investasi asing dan mencari dana untuk menggerakkan perekonomian, sungguh ironis! persis pepatah bilang “Bagaikan ayam mati dilumbung padi karena kurang minum”.

Disisi lain bunga menyebabkan inflasi (inflatoir). Biaya bunga merupakan biaya yang berhubungan dengan input dan proses produksi sehingga akan berdampak pada naikknya Harga Pokok Produksi (HPP). Naiknya HPP akan menyebabkan naiknya harga jual dan apabila ini terjadi pada harga-harga meluas maka terjadilah inflasi.

 

  1. Bunga Adalah Kontra Keadilan

Bunga harus tetap dibayarkan oleh debitur kepada krediktur. Walaupun usaha yang biayanya belum tentu mendapatkan keuntungan. Oleh karena itu, pada sistem bunga ada pihak yang pasti menerima pendapatan, dan ada pihak yang belum pasti memperoleh pendapatan, sehingga ada yang bebas resiko yaitu kreditur, serta terdapat pihak yang tidak bebas resiko yaitu debitur.

Karakteristik dasar suku bunga adalah cenderung rendah disaat ekonomi membaik. Saat ekonomi memburuk debitur hanya mendapatkan keuntungan yang kecil bahkan mungkin mengalami kerugian, maka apakah adil apabila membayar bunga yang tinggi. Pada kondisi ini kreditor mengeksploitasi dan mempredatori debitur. Saat ekonomi membaik debitur mendapatkan keuntungan yang tinggi tetapi membayar bunga rendah, maka apakah adil kreditur menerima pendapatan lebih rendah. Pada kondisi ini debitur mengeksploitasi dan mempredatori kreditur. Kesimpulannya, bunga menyebabkan proses ketidakdilan yaitu selalu ada pihak yang melakukan eksploitasi dan predatori, baik dalam kondisi ekonomi membaik maupun memburuk.

Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa bunga merupakan penyakit yang berbahaya dalam perekonomian. Oleh karena itu, apabila suatu sistem perekonomian tetap menggunakan bunga sebagai salah satu instrumennya maka perekonomian tersebut dengan sangat sengaja dan sadar telah memelihara penyakit yang setiap saat dan tanpa terduga dapat kambuh dan akan melumpuhkan sendi-sendi perekonomian. Mungkin sudah saatnya dipikirkan alternatifnya atau memang sudah saatnya untuk ditinggalkan sistem tersebut dari sistem perekonomian Indonesia bahkan global!

 

  1. Sistem Moneter Islam adalah Solusi Sistem Keuangan

Skema awal yang perlu dilakukan kajian dalam rangka mewujudkan keinginan menjadi ekonomi keuangan berbasis riil menurut Islam di antaranya adalah meluruskan kesalahan pandangan terhadap kedudukan uang yang tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar tapi juga sebagai komoditi, serta pembuatan mata uang tidak menggunakan basis emas atau perak sehingga nilai nominal tidak menyatu dengan nilai intrinsiknya, inilah yang menjadi biang dari segala keruwetan ekonomi kapitalis. Mengatasi krisis keuangan yang hingga kini masih terus berlangsung, di samping harus menata sektor riil, yang paling penting adalah meluruskan pandangan keliru tersebut. Bila uang dikembalikan kepada fungsinya sebagai alat tukar saja, lantas mata uang dicetak dengan basis emas dan perak (dinar dan dirham), maka ekonomi akan betul-betul digerakkan oleh hanya sektor riil saja. Tidak akan ada sektor non riil (dalam arti orang berusaha menarik keuntungan dari mengkomoditaskan uang dalam pasar uang, bank, pasar modal dan sebagainya). Kalaupun ada usaha di sektor keuangan melakukan hal tersebut, tentu itu tidak lebih sekedar menyediakan uang untuk modal usaha yang diatur dengan sistem yang benar (misalnya bagi hasil; mudharabah). Dengan cara itu, sistem ekonomi yang bertumpu pada sektor riil akan berjalan mantap, tidak mudah goyang atau digoyang seperti saat ini. Disinilah keunggulan sistem ekonomi Islam.

Lebih jauh menurut Islam semestinya otoritas ekonomi global mulai menyadari bahwa fungsi uang harus dikembalikan pada fungsi awalnya yakni sebagai alat tukar saja dan alat mengukur nilai barang saja. Jika demikian maka dimana uang beredar, ia pasti hanya akan bertemu dengan barang dan jasa. Semakin banyak uang beredar, semakin banyak pula barang dan jasa yang diproduksi serta diserap pasar. Akibatnya pertumbuhan ekonomi akan terus meningkat, tanpa ada kekhawatiran terjadi kolaps seperti pertumbuhan ekonomi dalam sistem Kapatalis.

Di samping itu, sebagaimana Islam memiliki pandangan yang khas mengenai sistem moneter. Sebagaimana disampaikan Syekh Abdul Qodim Zallum misalnya dalam kitab al Amwal fi Daulati al Khilafah, ia mengatakan bahwa sistem moneter adalah sekumpulan kaidah pengadaan dan pengaturan keuangan dalam suatu negara. Yang paling penting dalam setiap keuangan adalah penentuan satuan dasar keuangan dimana kepada satuan itu dinisbahkan seluruh nilai berbagai mata uang lain. Apabila satuan dasar keuangan itu adalah emas, maka sistem keuangannya dinamakan sistem uang emas. Apabila satuan dasarnya perak, dinamakan sistem uang perak. Bila satuan dasarnya terdiri dari dua satuan mata uang (emas dan perak), dinamakan sistem dua logam. Dan bila nilai satuan mata uang tidak dihubungkan secara tetap dengan emas atau perak (baik terbuat dari logam lain seperti tembaga atau dibuat dari kertas), sistem keuangannya disebut sistem frat money. Dengan sistem dua logam, harus ditentukan suatu perbandingan yang sifatnya tetap dalam berat maupun kemurnian antara satuan mata uang emas dengan perak. Sehingga bisa diukur masing-masing nilai antara satu dengan lainnya, dan bisa diketahui nilai tukarnya. Misalnya, I dinar emas syar’i beratnya 4,25 gram emas dan I dirham perak syar’i beratnya 2,975 gram perak.

Dengan cara itu, nilai nominal dan nilai intrinsik dari mata uang dinar dan dirham akan menyatu. Artinya, nilai nominal mata uang yang berlaku akan dijaga oleh nilai intrinsiknya (nilai uang itu sebagai barang, yaitu emas atau perak itu sendiri), bukan oleh daya tukar terhadap mata uang lain. Maka, seberapa pun misalnya dollar Amerika naik nilainya, mata uang dinar akan mengikuti senilai dollar menghargai 4,25 gram emas yang terkandung dalam I dinar. Depresiasi (sekalipun semua faktor ekonomi dan non ekonomi yang memicunya ada) tidak akan terjadi. Sehingga gejolak ekonomi seperti ini sekarang ini insya Allah juga tidak akan terjadi.[18]

Penurunan nilai dinar atau dirham memang masih mungkin terjadi. Yaitu ketika nilai emas yang menopang nilai nominal dinar itu, mengalami penurunan (biasa disebut inflasi emas). Di antaranya akibat ditemukannya emas dalam jumlah besar. Tapi keadaan ini kecil sekali kemungkinannya, oleh karena penemuan emas besar-besaran biasanya memerlukan usaha eksplorasi dan eksploitasi yang di samping memakan investasi besar, juga waktu yang lama. Tapi, andaipun hal ini terjadi, emas temuan itu akan disimpan menjadi cadangan devisa negara, tidak langsung dilempar ke pasaran. Disinilah pentingnya ketentuan emas sebagai milik umum harus dikuasai oleh negara.

  1. Kesimpulan

Keuangan global yang acapkali mengalami krisis, menandakan rentannya Kapitalisme dimana efek multidimensi dari krisis demi krisis yang dialami tersebut memerlukan pemikiran yang jernih dan jujur tentang adanya perbaikan sistem yang ada. Dalam hal ini, tidak ada salahnya bila sistem keuangan Islam mulai dipikirkan untuk diperankan sebagai sistem alternatif. Berbeda dari sistem kapitalisme, sistem keuangan Islam selalu menomorsatukan kebutuhan dan pemberdayaan masyarakat secara riil bukan sekedar pertumbuhan ekonomi saja sebagai isu utama yang memerlukan jalan keluar dan penerapan kebijakan.

Jatuhnya sistem keuangan global yang ditandai dengan krisis keuangan yang hingga kini masih terus berlangsung, di samping harus menata sektor riil, yang paling penting adalah meluruskan pandangan keliru tentang uang. Bila uang dikembalikan kepada fungsinya sebagai alat tukar saja, lantas mata uang dicetak dengan basis emas dan perak (dinar dan dirham), maka ekonomi akan betul-betul digerakkan oleh hanya sektor riil saja. Tidak akan ada sektor non riil (dalam arti orang berusaha menarik keuntungan dari mengkomoditaskan uang dalam pasar uang, bank, pasar modal dan sebagainya). Kalaupun ada usaha di sektor keuangan, itu tidak lain adalah untuk menyediakan uang untuk modal usaha yang diatur dengan sistem yang benar (misalnya bagi hasil). Dengan cara itu, sistem ekonomi yang bertumpu pada sektor riil akan berjalan mantap, tidak mudah goyang atau digoyang seperti saat ini dan yang akan datang. Disinilah keunggulan sistem keuangan Islam dimanapun uang beredar, ia pasti hanya akan bertemu dengan barang dan jasa. Semakin banyak uang beredar, semakin banyak pula barang dan jasa yang diproduksi dan diserap pasar. Akibatnya pertumbuhan ekonomi akan terus meningkat, tanpa ada kekhawatiran terjadi kolaps.

  1. Daftar Rujukan

Abdul Husain, Abdul At-Tariqi, Ekonomi Islam Prinsip, Dasar, dan Tujuan. Yogyakarta: Magistra Insani Press, 2004.

 

Agustianto, “Akar Krisis Keuangan Global dan Momentum Ekonomi Syariah Sebagai solusi” dalam http://fai.uhamka.ac.idlpost.php? idpost=161

 

Akbar, Hidayatullah, “Sistem Moneter lslam”, dalam www.e-syariah.net

 

Al-Jawi, Shiddiq. “Pangkal Kerapuhan Kapitalisme” dalam . http://forum. dudung.net/ind ex.php?topic=6966.0;wap2.

 

An-Nabhani, Taqyudin, Membangun Sistem Ekonomi Alternatif Perspektif Islam. Surabaya: Risalah Gusti, 1996.

 

Basyuni, Muhammad, “Pemecahan Alternatif Krisis Ekonomi”. Dalam http://library.usu. ac.idldownload/fp/kehut-basyuni.pdf

 

Camdesus, Michael, Main Principles For The Future Of International Monetary, Financial System. IMF Survey, 2000.

 

Chapra, M Umear, Al-Qur’an Menuju Sistem Moneter Yang Adil. Yogyakarta: PT Dhana Bhakti Prima Yasa, 1997.

 

——–, Sistem Moneter Islam. Jakarta: Gema Insani Press, 2000.

 

——–, Reformasi Ekonomi : Sebuah Solusi Perspektif Islam. Jakarta\: Bumi Aksara, 2008.

 

Daniri, “Ekonomi Syariah, Solusi Krisis Keuangan Global”, dalam Republika: Senin, 24 November 2008).

 

——–, “Ekonomi Islam”, Ditulis Oleh Pusat Pengkajian Dan Pengembangan EkonomiIslam (P3EI) Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Atas KerjasamaDengan Bank Indonesia. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2008.

 

Sugianto, ”Globalisasi Dan Tatanan Ekonomi Baru: Perspektif Ekonomi Islam”, Dalam http://ekisonline.com/index.php?option=com

 

Huda, Nurul dkk. Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teoritis. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008.

 

Muhammad, Dasar-Dasar Keungan Islam. Yogyakarta: Ekonisia, 2004. Lihat Juga: Mujahidin, Akhmad. Ekonomi Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2007.

* Dosen Syari’ah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Kediri

[1] Semua krisis berakar pada tidak sehatnya kebijakan fiskal, moneter, dan nilai tukar. Lihat: Michael Camdesus, Main Principle For The Future Of International Monetary, Financial System. (IMF Survey, 2000), 1 dan 7-10.

[2] Transaksi riba yang tampak dalam sistem keuangan dan perbankan modern (dengan adanya bunga bank), seluruhnya diharamkan secara pasti; termasuk transaksi-trasnsaksi derivative yang biasa terjadi di pasar-pasar uang maupun pasar-pasar bursa. Penggelembungan harga saham maupun uang, sehingga tidak sesuai dengan harganya yang ‘wajar’ dan benar-benar memiliki nilai intrinsik yang lama dengan nilai nominal yang- tercantum di dalamnya adalah tindakan riba. Perekonomian yang didasarkan pada bunga (interest), amat bertentangan dengan ruh dan jiwa hakiki ajaran Islam yang menjadikan keadilan sebagai terra sentral sistem sosialnya. Inti ajaran Islam dalam tatanan sosialnya (Muamalah) menolak adanya kelaziman yang merupakan lawan utama keadilan. Sedangkan sistem ekonomi ribawi mustahil akan ditemukan keadilan seperti yang diinginkan oleh syariat Islam. Untuk itu, tidak ada jalan lain kecuali membuang jauh jauh eksistensi barang haram ini dari habitat ekonomi Islam dan menegakkan sistem perekonomian yang bebas dari segala macam bentuk riba. Lihat: M. Umer Chapra, Reformasi Ekonom : Sebuah Solusi PerspekJif Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 4.

[3] Globalisasi adalah suatu proses yang multi-dimensi, meliputi ekonomi, politik, sosial, budaya, dan ideologi. Fenomena globalisasi mewujud dalam bentuk penyempitan waktu dan ruang dalam hubungan sosial. Artinya hubungan sosial antara individu dengan masyarakat maupun antar masyarakat dalam suatu negara bahkan antar negara telah menjadi begitu transparan, tidak lagi mengenal batas-batas politik. Perkembangan yang begitu cepat dalam teknologi informasi, perdagangan internasional, serta mobilitas tenaga kerja, modal dan keuangan antar negara sejak tiga dasawarsa terakhir telah mengakibatkan peran ekonomi suatu negara secara individual terhadap perekonomian global menjadi semakin kurang penting atau kurang berarti. Tentunya, proses ini telah dan akan mempengaruhi suatu konstruk sistem sosial suatu masyarakat yang telah mapan selama ini. Sejauh mana pengaruh ini, ditentukan oleh bagaimana sebuah masyarakat atau negara itu memberikan respon terhadap globalisasi tersebut. Lihat: Sugianto, Globalisasi dan Tatanan Ekonomi Baru: Perspektif Ekonomi Islam. http://ekisonline.com/index.php?option=com content&taskwiew&id=22&[temid=28 (20 April 2008).

[4] Agustianto, Telaah Terhadap Akar Krisis Keuangan Global-Dekonstruksi Kapitalisme dan Rekonstruksi Ekonomi Syariah (Bagian 2). Lihat, http://agustianto.niriah.com/2008/10/13/ dekonstruksi-kapitalisme-dan-rekonstruksi-ekonomi-syariah-bagian-2/.

[5] Agustianto, Telaah Terhadap Akar Krisis Keuangan Global – Momentum Ekonomi Syariah Sebagai Solusi (Bagian 1) http://agustianto.niriah.com/2008/10/09/akar-krisis-keuangan-global-dan-momentum-ekonomi-syariah-sebagai-solusi-bagian-i/.

[6] Kapitalisme yang merupakan sebuah sistem sosial memberikan seluas-luasnya hak pribadi di mana hak milik adalah seratus persen milik pribadi. Di dalam kapitalisme, negara tidak berhak mencampuri urusan ekonomi, yakni produksi dan perdagangan sebagaimana juga pemisahan antara agama dan negara. Demi mengejar keuntungan, debitur yang sebenarnya tidak layak mengambil kredit bahkan tidak punya pekerjaan tetap diajukan oleh para broker dan agen properti untuk mendapat kredit dari bank. Meskipun para agen properti ini tahu bahwa calon debitur tersebut akan menunggak, mereka tetap saja memproses permohonan kredit mereka demi mendapatkan fee dari bank. Jika macet, bukan tanggung jawab mereka melainkan bank. Demikian juga bank, mereka setujui saja permohonan kredit tersebut dengan bunga yang sangat tinggi sesuai dengan tingkat risikonya yang juga sangat besar. Para Banker tersebut tidak mau menanggung risiko tersebut sendirian. Mereka kumpulkan aset busuk kredit dicampur dengan beberapa aset kredit yang relatif baik, kemudian mereka jual ke seluruh investor di seluruh dunia setelah sebelumnya mereka bayar para pemberi rating kredit untuk memberi rating yang bagus agar paket aset kredit busuk tersebut laku. Dengan demikian, para banker AS telah menyebarkan risiko kredit macet tersebut ke investor di seluruh dunia. Seperti ratusan investor di Hong Kong yang membeli paket kredit dari Lehman Brothers, sebuah bank investasi terbesar keempat di Amerika, yang telah gulung tikar, mereka berdemonstrasi menuntut pengembalian dana mereka yang berjumlah 1,63 miliar dolar AS. Lihat: Daniri, Ekonomi Syariah, Solusi Krisis Keuangan Global (Republika: Senin, 24 November 2008).

[7] Agustianto, Akar Krisis Keuangan Global dan Momentum Ekonomi Syariah Sebagai solusi. 2008.

[8] Shiddiq Al-Jawi, Pangkal Kerapuhan Kapitalisme. http://forum.dudung.netlindex.php?topic=696 6.0;wap2.

[9] Perkembangan dan pertumbuhan finansial di dunia saat ini, sangat tak seimbang dengan pertumbuhan sektor riel. Realitas ketidakseimbangan arus moneter dan arus barang/jasa tersebut, mencemaskan dan mengancam ekonomi berbagai negara. Pakar manajamen tingkat dunia, Peter Drucker, menyebut gejala ketidakseimbangan antara arus moneter dan arus barang/jasa sebagai adanya decopling, yakni fenomena keterputusan antara maraknya arus uang (moneter) dengan arus barang dan jasa. Fenomena ketidakseimbangan itu dipicu oleh maraknya bisnis spekulasi (terutama di dunia pasar modal, pasar valas dan proverti), sehingga potret ekonomi dunia seperti balon saja (bubble economy). Ibid.

 

[10] Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhi. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba fadhi ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya, riba yang dimaksud dalam ayat ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman Jahiliyah.

[11] Maksudnya; orang yang mengambil riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan syaitan.

[12] Riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini, boleh tidak dikembalikan.

[13] Akbar Hidayatullah, “Sistem Moneter Islam”, dalam www.e-syariah.net

[14] “Bunga” merupakan problem moneter dalam sistem Kapitalis, namun menurut sistem Islam “bunga” bukanlah problem moneter, sebab membungakan uang adalah perbuatan riba yang haram hukumnya. Maka sistem moneter kapitalis tidak boleh diterapkan dalam masyarakat Islam. Ibid.

 

[15] M Umear Chapra, Sistem Moneter Islam (Jakarta: Gema lnsani Press, 2000), xx.

 

[16] M. Umer Chapra, Reformasi Ekonomi: Sebuah Solusi Perspektif Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 21.

[17] Perdagangan dunia (ekspor impor) naik dari 499,0 milliar dolar US pada bulan april 1998 (IMF, International Financial Statistic, CD-ROOM dan November 1998). Nilai perdagangan dunia dalam seharinya per bulan April 1998 mencapai 30,3 miliar dolar US.

[18] Emas dan perak adalah mata uang dunia paling stabil yang pernah dikenal. Sejak masa awal Islam hingga hari ini, nilai mata uang Islam dwilogam itu secara mengejutkan tetap stabil dalam hubungannya dengan barang-barang konsumtif. Seekor ayam pada zaman Nabi Muhammad SAW harganya 1 dirham. Hari ini, lebih 1400 tahun kemudian, harganya kurang lebih masih 1 dirham. Dengan demikian inflasi adalah nol. Hidayatullah Akbar, dalam Sistem Moneter Islam. www.e­syariah.net.

أضف تعليق