The Power of Forgiveness: Perspektif Psikologi

KEDIRI. Selasa, 22 Mei 2018 Srawung Psikologi Kediri melaksanakan workshop forgiveness therapy dengan tema “Menuju Bangsa Indonesia Pemaaf” dengan narasumber Drs. Asep Haerul Gani, psikolog., dari Tasikmalaya. Sebagian orang lebih akrab memanggilnya dengan sebutan “Kang Asep”. Acara ini diikuti oleh 40 peserta meliputi, beberapa Dosen Psikologi Islam IAIN Kediri, mahasiswa/wi, serta beberapa peserta dari luar. Workshop ini dilaksanakan di Sekolah Alam Ramadhani, Jl. Supiturang Utara 13, Mojoroto, Kota Kediri. Selain itu, acara dimulai pada pukul 09.00 dengan 3 sesi dan 2 kali istirahat untuk sholat dhuhur dan ashar, dan nantinya akan diakhiri pada pukul 17.30 WIB.

Acara ini bermula dari ide Gus Sunarno, MA., yang mengetahui postingan Kang Asep mengenai safari Ramadhan yang diadakannya di berbagai daerah. Kemudian ia mendaftarkan Srawung Psikologi sebagai salah satu komunitas yang bersedia untuk melaksanakan workshop tersebut. Karena acara ini memiliki beberapa persyaratan, yang salah satunya adalah kuota peserta, maka bagi yang mengikuti acara ini diutamakan dari pihak Srawung Psikologi, kemudian ia mengajak beberapa Dosen IAIN Kediri. Hal ini juga terkait mengenai pengembangan jurusan Psikologi Islam sendiri yang ada di IAIN Kediri. Selain itu, tujuan diadakannya acara ini, tentunya tidak jauh dari tema yang diusung, selain menambah wawasan, juga untuk menularkan terapi pemaafan agar terjadi keharmonisan antar sesama manusia.

Beberapa Dosen Psikologi Islam IAIN Kediri yang ikut hadir dalam acara ini adalah, Imron Muzaki M.Psi psikolog., selaku Ketua HIMPSI Cabang Kediri, Luthfi  Atmasari M.Psi, psikolog., Fatma Puri Sayekti M.Psi, psikolog., dan Syafruddin Faisal Thohar, M.Psi, psikolog.

Adapun biografi Kang Asep yang pernah bekerja  di berbagai company dan sampai akhirnya bosan, hal inilah yang melatarbelakanginya memilih menyebarkan ilmu terapi pemaafan. Pengalaman menjadi psikolog selama 23 Tahun, membuat ia sering di undang di berbagai tempat untuk berbagi ilmu. Selain itu ia juga sudah piawai menangani beberapa permasalahan seperti, depresi, trauma, phobia, insomnia, kecanduan, hysteria, obsessive compulsive, stress, cemas, khawatir, panik, sakit jatung, dan kanker. Sehingga di tempat tinggalnya yaitu Tasikmalaya sudah bukan rahasia umum, jika menjadi pusat belajar (perkumpulan) mahasiswa Psikologi dari berbagai kampus yang ada di sekitarnya.

Kedatangannya sebagai narasumber di IAIN Kediri yang petama ia sampaikan tentang kedudukan ilmu psikologi, sudut pandang ilmu psikologi di perguruan tinggi Islam, dan tantangan kedepan sebagai lulusan psikologi dan perannya. Kang Asep menjelaskan bahwa psikologi tidak bisa dipahami secara dogmatik. Karena objek kajiannya yang luas dan selalu berkembang. Jika hal ini dikotak-kotakkan maka akan sulit untuk bermanufer.

Setelahnya ia menyampaikan materi tentang terapi pemaafan. Terapi ini bisa diartikan sebagai terapi gabungan dari beberapa terapi, hal ini dikarenakan permasalahan klien yang datang berbeda-beda dan kompleks. Kang Asep mengatakan, “Orang yang tidak pemaaf mereka memiliki gangguan, hal ini dikarenakan mereka merasa di zalimi”. Pernyataan ini bisa dipahami bahwa esensi pemaafan adalah seseorang yang secara rasional menentukan bahwa ketika diperlakukan tidak adil. Kemudian mengabaikan dan melampiaskan dendam dan tanggapan sejenis, serta berusaha menanggapi pembuat kesalahan didasari prinsip moral belas kasih meliputi: perasaan kasihan, penghargaan tanpa syarat, murah hati, dan cinta moral.

Ia juga menambahkan, “Pemaafan tidak lain adalah lekat untuk diri sendiri yang sifatnya personal, hal ini erat kaitannya dengan ketika merasa dizalimi bagaimana kita dapat memaafkan orang lain, ketika kita belum bisa memaafkan diri kita sendiri. Karena memaafkan berkaitan dengan kedamaian bagi diri, kekuatan diri, tanggung jawab diri, penyembuhan, dan pemenang. “Kerugian bagi orang yang tidak memaafkan adalah berkoalisi dengan penzalim untuk mmenderita, membuang waktu, dan distorsi kognisi”, pungkasnya.

Kang Asep juga mencontohkan sikap Rasulullah saw., yang pemaaf, mengapa Rasulullah saw. begitu mudah memaafkan? Karena beliau tidak bergantung pada stimulus, oleh karenanya Rasulullah saw. mampu menjadi subjek yang tidak terpengaruh oleh stimulus. Sebagai contoh, Rasulullah saw. pernah dilempari kotoran manusia oleh orang Yahudi. Rasulullah saw., membalasnya dengan senyuman dan memaafkan. Kang Asep memberikan penjelasan sebagai berikut,  “Sebenarnya orang yang paling repot disitu siapa? Ya yang melepar tadi, ia harus mengumpulkan kotoran, mewadahi, mencium yang baunya jijik, membawa berat ke dekat Rasulullah saw., lalu melemparpun dengan tangannya sendiri, belum lagi mendapat balasan dari Allah swt., bisa berupa sakit. Kemudian Rasulullah saw. pun juga menjenguknya, Rasulullah saw., begitu mudah untuk memaafkan, karena ia tidak terrpengaruh dengan stimulus, dan urusan Rasulullah saw., adalah dengan dirinya sendiri, oleh karenanya Rasulullah saw., mampu menjadi subjek, bukan objek. Rasulullah saw. pun mengajarkan untuk memaafkan bukan untuk meminta maaf.

Materi pun berlanjut dengan membahas memaafkan yang dapat membahagiakan. Martin Seligman menyatakan bahwa, “Orang yang bahagia adalah yang puas dengan masa lalu dan tidak mempermasalahkannya, tidak khawatir dengan masa kini, dan semangat menghadapi masa depan”.

Memaafkan juga berbeda dengan memaklumi dan mengampuni. Memaafkan itu tidak dengan perdamaian, bahwa ketika seseorang melakukan kesalahan pada kita kemudian kita bersikap untuk tetap biasa dan menghindari pertengkaran, tetapi dalam diri masih merasa nggrundel hal ini disebut dengan memaklumi. Ringkasnya adalah memaklumi belum memaafkan sepenuhnya, meskipun sudah mengatakan memaafkan, namun terkadang masih mengingat dan membicarakan orang yang menyakitinya. Kalau memaafkan, apapun yang dilakukan orang yang telah menyakiti, seseorang tetap mampu berbuat baik kepadanya, tidak membicarakannya, dan tidak mengingat perbuatan buruknya.

Sedangkan mengampuni adalah memberikan maaf berdasarkan kesalahan yang dilakukan tetapi belum sampai secara menyeluruh dan tuntas, dan memaafkan adalah perihal penyembuhan diri atas permasalahan yang menimpa dengan berbuat baik pada diri sendiri dan tetap berbuat baik kepada orang lain yang berbuat baik ataupun menyakiti kita.

Suasana workshop tetap menyenangkan, dan peserta tetap antusias hingga akhir, karena penyampaian diselingi dengan humor, interaktif, dan sesekali dilakukan praktik. Terdapat sebuah praktik yang pertama adalah menuliskan permasalahan yang dirasa sulit dimaafkan di sticky notes berdasarkan jenjang pendidikan ketika TK hingga saat ini (sekarang). Kemudian ditempelkan pada kolom dan level yang sesuai ia rasakan. Acara ini diakhiri dengan  foto bareng dan buka bersama di Pendhapa Sekolah Alam Ramadhani. (Vita – Penggiat UKM DeDIKASI)

Leave a Reply